Curug Citro Arum Yang Bersih, Alami, Dan Tersembunyi Di Balik Tebing

Kendal - Curug citro arum, namanya belum tersohor dan jarang orang yang mengetahui keberadaanya. Air terjun yang satu ini bukanlah satu-satunya di desa Pakis, diatasnya masih ada satu air terjun lagi yaitu curug tundo tigo. Keduanya masih satu sumber, yakni dari lereng gunung Ungaran.

Berbicara mengenai curug yang ada di Kendal pasti banyak yang akan langsung tertuju ke curug sewu Sukorejo. Tidak salah memang karena obyek wisata tersebut sudah ternama dari dulu. Padahal kalau kita telusuri lebih dalam lagi di Kendal masih banyak air terjun yang mempesona. Beberapa sudah menjadi tempat wisata dan beberapa masih tersembunyi. Salah satunya adalah curug citro arum ini. Nah seperti apakah keindahan yang dimilikinya?

Lokasinya tak jauh dari kota Boja, untuk menuju kesini kita bisa menggunakan rute Limbangan - Sumowono. Karena luas jalan yang kurang bersahabat saat melewati area perkampungan lebih baik saat kesini kita menggunakan sepeda motor saja, mobil bisa. Tapi untuk tempat parkir akan menjadi masalah tersendiri bagi pengunjung. Papan penunjuk arah juga ada di pinggir jalan ( sebelah kiri ) kalau anda dari Boja. Tepatnya setelah melewati lapangan yang cukup besar kurangi laju kendaraan anda dan mulai perhatikan setiap papan penunjuk arah.

Dari jalan raya kita harus memasuki area perkampungan terlebih dahulu, kurang lebih 2 Km dengan medan yang menanjak. Nanti di pertigaan kita akan melihat papan penunjuk arah ke curug citro arum. Ikuti saja papan tersebut maka akan sampailah kita di lokasi parkir.

Sampai disana saya bertemu dengan petugas parkir yakni mas Nanang dan Mas Rowi.
"Masih jauh nggak mas curugnya?" tanya saya.
"Dekat mas, paling 10 menit," jawab mas Rowi.

Tak ingin membuang waktu lebih lama setelah memarkirkan kendaraan saya langsung melangkahkan kaki menuju ke arah curug citro arum. Satu-satunya jalan yang harus kita lalui adalah jalan tanah liat yang didominasi tumbuhan besar dan tanaman khas pegunungan.

Sesekali kita akan menyeberangi sungai kecil. Airnya sangat jernih, dingin, dan segar. Suara gemerciknya begitu tenang, syahdu banget pokoknya. Tapi tetap hati-hati dalam memijakan kaki ya kawan, soalnya bebatuan sungai yang basah terkadang menjadi licin apabila diinjak.

Sampai ditengah-tengah perjalanan saya berpapasan dengan pengunjung lain. Saya pun menanyakan lokasi air terjunya apakah masih jauh atau dekat. Lumayan jawabnya. Tanpa basa basi saya langsung mempercepat langkah kaki karena tidak sabar ingin cepat sampai. 

Akhirnya dari kejauhan saya melihat air terjun yang tingginya.. Sebenarnya dari kejauhan kita sudah bisa melihat curug citro arum ini sob, tapi kalau masih penasaran bisa lebih mendekat sampai ke bawahnya persis. Nah jangan terburu-buru kesana ya kawan karena sebelum sampai kita akan melihat satu air terjun lagi di sebelah kanan jalan. Air terjun ini juga nggak kalah tinggi dengan curug citro arum. Kurang paham juga sih yang satu ini curug apa namanya. Airnya jatuh dari sela-sela tebing yang banyak ditumbuhi rerumputan dan tanaman gunung, sehingga terkesan begitu natural.

Tips tambahan : Disini belum ada fasilitas apapun murni alam. Kalau mau bawa makanan silahkan beli diluar, tapi ingat sampahnya jangan dibuang di area ini ya. Terus kalau mau cari mushola ada di area perkampungan.

Kalau sudah puas mari kita melanjutkan perjalanan menuju ke curug citro arumnya. Masya Allah.. tingginya.. Air yang jatuh begitu jernih, ditambah sekeliling aliran air ditanami tanaman yang merambat membuat rasa lelah akibat menempuh perjalanan kesini seolah hilang begitu saja. Dibawahnya terdapat banyak sekali bebatuan ada yang kecil dan besar, campurlah.

Untuk masalah ketinggiannya berapa sampai sekarang belum ada informasi yang pasti.
"Kemarin ada orang kesini, nggak tau darimana, dia kesini bawa tali mau ngukur ketinggianya tapi nggak sampai meteranya ( tambang : untuk mengukur ketinggian ) orangnya belum kesini lagi." ujar mas Rowi.

"Kok masih sepi, mas?" tanya saya.
"Iya, biasanya habis Dhuhur mas," jawab mas Rowi.

Objek wisata curug citro arum masih dikelola warga sekitar harga tiketnya juga sangat terjangkau yakni cukup membayar Rp.5.000 saja per sepeda motor. Tempat parkirnya juga sudah dibuatkan atap sehingga lebih nyaman.

Nah bagi kamu yang mau berwisata kesini jangan lupa diatas masih ada satu air terjun lagi, walaupun nggak setinggi curug citro arum yang jelas sayang banget kalau dilewatkan. Karena apa? masih satu lokasi dan satu aliran. Dari sini paling 5 sampai 10 menit sampai. Lokasinya berada di desa atasnya lagi.

2 Air Terjun Desa Seloprojo Yang Mempesona, Sumuran & Ngesong

Magelang - Dari kedua air terjun tersebut Seloprojolah yang paling sering didengar oleh masyarakat. Padahal keduanya tidak ada yang namanya air terjun Seloprojo, disebut demikian karena letaknya berada di desa Seloprojo kecamatan Ngablak, kabupaten Magelang. Berada di lereng gunug Telomoyo membuat suasana disekitarnya terasa sangat sejuk dan bebas dari hingar bingar perkotaan.

Untuk menuju kemari kita bisa menggunakan rute Salatiga - Kopeng dengan menggunakan jalur Alternatif ( jalur lingkar ) Salatiga, dari situ ambil arah menuju ke Kopeng atau habis melewati taman kota ada perempatan belok kanan. Dari situ tinggal ikuti saja arah menuju ke Ketep Pass. Kira-kira 20 sampai 30 menit perjalanan. Nah saat melewati daerah pasar umum Getasan mulailah kurangi kecepatan dan lihatlah di sebelah kanan jalan, carilah spanduk yang menunjukan arah ke air terjun Sumuran. Masuk ke jalan yang dimaksud ( nyebrang ke kanan jalan ) sejauh 8 Km kurang lebih.

Saat memasuki daerah Getasan udaranya sangat sejuk sekali kawan. Ditambah dengan panorama alam pegunungan yang indah membuat pikiran kita menjadi segar kembali. Namun jangan sampai terlena. Karena medan jalan didominasi tanjakan dan tikungan yang berliku-liku. Untuk menuju kemari kita bisa menggunakan sepeda dan sepeda motor, sedangkan untuk mobil saya sendiri kurang paham dimana lokasi parkirnya.

Yang unik dari air terjun  sumuran ini adalah saat kita belum sampai pun kita dapat melihat air terjun ini dari gerbang desa. Airnya mengalir dari sela-sela hijaunya hutan sehingga kesan alaminya sungguh terasa.

"Kok masih sepi, mas?" tanya saya kepada penjaga tiket. Karena penasaran kemarin cuma ada 1 sepeda motor saja yang terparkir disini.
"Iya mas soalnya masih pagi, nanti agak siangan biasanya pada datang", jawab dia.
"Ohh.. ini berapa mas tiketnya?" tanya saya lagi.
"Lima ribu saja mas," imbuhnya.

Tak ingin membuang buang waktu setelah dapat tiket saya langsung melangkahkan kaki menuju ke air terjun. Selama perjalanan saya beberapa kali berjumpa dengan petani setempat. Ramahnya warga membuat hati ini semakin nyaman berada disini.

"Monggo mbah," sapa saya kepada seorang nenek yang baru saja dari ladang.
"Monggo mas, bade tindaka'an?" jawab beliau sambil tersenyum.
"Enggih mbah," jawab saya sambil senyum balik juga.

Tapi tunggu dulu, saat saya melihat ke belakang ada sebuah pemandangan yang menarik perhatian saya. Apalagi kalau bukan gunung Andong, tadi pas perjalanan kesini memang cuaca masih agak mendung sehingga pegunungan yang ada disini pun terselimuti kabut. Tanpa saya sadari ternyata pas sampai sini cuaca sudah mulai cerah. Nampak gunung Andong mengintip di balik bukit yang hijau. Ditambah dengan terasiring lahan pertanian menjadikan perpaduan yang sangat luar biasa.

Oke mari kita melanjutkan perjalanan ke air terjun. Sebelum sampai kita akan melewati daerah perkebunan penduduk. Kesibukan para petani dalam mengolah kebunnya akan menjadi nilai tambah kearifan lokal desa Seloprojo ini.

Tak beberapa lama akhirnya sampai juga kita di air terjun Sumuran. Dengan ketinggianya yang mencapai sekitar 35 meter air terjun ini begitu terlihat mempesona. Ditambah dengan banyaknya bebatuan tebing membuat aliran air yang jatuh dari atas begitu khas dan indah. Hijaunya tanaman di sekitarnya memberikan kesan alami yang begitu terasa. Cocok banget deh sob buat refresing.

Didepan air terjun ini ada sebuah jembatan penyeberangan kecil. Supaya para pengunjung bisa mendekati dan menyentuh airnya langsung, wuihh seger banget dijamin. Dibawah air terjun persis ada sebuah kolam yang menampung air, kolam ini ada 2 dan tidak begitu besar. Ada beberapa gubuk yang bisa kita manfaatkan buat bersantai nih sob, mau sambil ngemil atau sekedar menikmati panorama alam sama-sama oke.

Saat tiba disini benar saja, ternyata nggak ada seorang pun yang berada di sekitar air terjun. Ya tak apalah efek datang kepagian. Setelah puas berada disini saya melanjutkan perjalanan ke air terjun ngesong. Yuk sob..

Tadi waktu kesini pasti kita akan bertemu dengan pertigaan. Ambil yang kanan buat ke air terjun sumuran dan kekiri untuk ngesong. Kalau kita habis dari sumuran tinggal cabut aja lurus ikuti jalan. Jaraknya sekitar 100 sampai 200 meter lah.

Tapi sebelumnya kita akan melewati jajaran hutan pinus yang rindang terlebih dahulu. Dari sini jalanya juga akan berubah menjadi jalan setapak tanah liat. Hati-hati ya sob, karena terkadang licin. Lambat laun hutan pinus mulai kita tinggalkan dan berubah menjadi jajaran pohon bambu yang lebat. Ini sekaligus menjadi pertanda bahwa kita sudah hampir sampai.

Dan ini dia yang kita tunggu-tunggu akhirnya sampai juga. Masya Allah.. Pesona air terjun ngesong ini begitu sangat memukau. Berbeda dengan sumuran disini terdapat sekali bebatuan yang tersebar di pinggir sungai. Mulai yang kecil hingga yang besar. Nah yang perlu diperhatikan kalau kamu mau mendekat ke air terjun pelan-pelan ya sob, karena bebatuan ini banyak ditumbuhi lumut sehingga besar kemungkinan permukaanya menjadi licin.

Ketinggian air terjun ini juga sebelas dua belas sama sumuran. Hanya saja letak air terjun ngesong lebih tersembunyi. Butuh perjuangan yang pasti buat bisa sampai kesini.

Yang perlu diingat air terjun ngesong memang belum difasilitasi tempat sampah, maka dari itu kalau misalkan kamu mau berkunjung kesini jangan lupa untuk menyimpan sampahmu terlebih dahulu dan dibuang nanti di tempatnya. Sayang banget kan kalau objek sebagus ini menjadi kotor karena sampah.

Gedong Songo Sebagai Wisata Alam Dan Sejarah Di Semarang

Gedong songo merupakan destinasi wisata alam yang memadukan dengan sejarah. Keberadaanya yang berada di lereng gunung Ungaran dapat membuat siapapun yang berkunjung pasti merasakan nuansa yang begitu damai, sejuknya alam pegunungan ditambah dengan pemandangan hamparan luas akan mewarnai para pengunjung yan datang kemari. Kemudian disebut dengan sejarah karena disini terdapat sebuah bangunan Indonesia, apalagi kalau bukan candi. Uniknya disini tidak hanya terdapat satu candi, melainkan ada sembilan.

Terletak di daerah Bandungan kabupaten Semarang objek wisata ini tidak terlalu sulit dijangkau. Ada dua medan yang bisa pengunjung tempuh. Yang pertama dari kota dengan melewati pemancingan Jimbaran atau lewat Karangjati. Kemudian dari arah Kendal bisa melewati rute Boja - Limbangan - Sumowono. Dari kedua rute  tersebut pengunjung akan sama-sama menghadapi rintangan berupa jalanan yang menanjak serta berkelok kelok. Jika ingin berkunjung kemari pastikan kendaraan anda dalam keadaan prima ya..

Untuk masalah biaya juga masih terbilang murah, hanya dengan membayar Rp.7.500/ orang kita bisa menikmati panorama alam yang luar biasa ini sepuasnya.

Tantangan pengunjung bukan hanya medan perjalananya saja, ada lagi tantangan yang musti kita hadapi lagi setelah sampai, yakni jarak antara bangunan candi satu dengan yang lainya jaraknya berjauhan. Tak jarang pula para pengunjung yang lelah kemudian menyerah di tengah-tengah jalan.

Candi artinya bangunan dan songo artinya sembilan. Jika diartikan adalah bangunan yang berjumlah sembilan. Mungkin bagi para pengunjung yang berhasil menyelesaikan tantangan hingga ke candi terakhir akan bertanya tanya, kenapa hanya sampai bangunan candi lima, padahal tadi dibilang ada sembilan. Menjawab pertanyaan tersebut, ada satu maksud yang belum banyak orang ketahui. Candi gedong songo memang berjumlah sembilan, dan yang lima itu maksudnya lokasi. Jadi satu lokasi ada yang candinya lebih dari satu, jangan salah paham dulu ya..

Di beberapa titik banyak para penjual makanan dan minuman, ini bisa pengunjung manfaatkan apabila tadi lupa membawa bekal dari rumah. Selain itu sudah banyak pula tempat sampah yang disediakan sehingga diharapkan para pengunjung sadar dengan membuang sampahnya ke tempat yang sudah disediakan.

Ditengah-tengah perjalanan nanti kita juga akan mendapati ada sebuah kawah belerang yang berbau menyengat. Lokasinya berada di cekungan bawah. Kemudian didekatnya ada pemandian air panas. Jika di musim liburan tempat ini sangat ramai dirubungi wisatawan.

Nanti dipintu keluar kita akan mendapati banyak para penjual oleh-oleh khas gedong songo. Ada aneka pernak pernik, kaos, gantungan kunci, mainan, tas, dan lain sebagainya. Bagi anda yang merasa lapar tidak usah khawatir karena disini juga ada banyak para penjual makanan, jadi sebelum pulang kita bisa mengisi energi terlebih dahulu setelah lelah akibat berjibaku dengan medan yang luar biasa.

Mengunjungi Situs Bersejarah Paling Terkenal di Indonesia, Apalagi Kalau Bukan Candi Borobudur

Magelang - Borobudur merupakan wisata andalan dan terkemuka di kabupaten Magelang, namanya tersohor hingga ke mancanegara. Maklum saja karena candi Borobudur sudah masuk kedalam situs warisan dunia. Candi ini tersusun sangat rapih dengan gaya piramida berundak dan dibuat dari batuan andesit.

Lagi, masih melanjutkan cerita yang kemarin dari pantai Parangtritis. Keesokan harinya saya dan teman-teman juga masih pada bingung mau mampir kemana lagi, ada 2 opsi kemarin. Yakni candi Prambanan dan Borobudur. Setelah berdiskusi beberapa saat akhirnya kami memilih candi Borobudur. Alasanya? karena satu arah dengan arah pulang. Kalau ke Prambanan musti kita muter-muter lagi tuh, daripada kelamaan mending kami cari yang simpel aja.

Sekitar jam 8 pagi kami berangkat dari Sleman menuju ke candi Borobudur. Kalau saya cek di GPS jarak antara rumah saudara temen saya dengan Borobudur cukup dekat, hanya sekitar 40 menit perjalanan ( tanpa macet ). Nah berubung ini kan mau pulang juga sebelum ke lokasi kami mampir dulu ke pusat oleh-oleh buat orang rumah, buruan utama kami adalah bakpia pathuk. Hahaha.. iya kue yang satu ini memang sangat legendaris dan fenomenal banget ya, pasti dah kalau ada yang ke Jogja titipnya bakpia pathuk.

Udah beres semua, lanjut lagi menuju ke tempat tujuan. Tak berapa lama kemudian Alhamdulillah kami sampai tujuan dengan selamat. Sebelum masuk kami nggak mau membuat kesalahan yang kesekian kalinya. Yaitu nyari jajan. Untung aja di dekat gerbang borobudur ada mini market.

Saat mau beli tiket masuk kami dihadang banyak para pedagang, mulai dari minuman, aksesoris, topi, oleh-oleh, dan lain sebagainya. Yah jadi serasa dirubung banyak fans kalau gitu. Hahahaha.. #Plaakk.. Kemarin hari biasa, harga tiketnya Rp.30.000/ orang. Harga yang pantas untuk wisata yang begitu populer di mata dunia. Pintu masuknya juga udah modern. Dengan memakai barcode tiket masuknya.

Awalnya kami kira kalau hari biasa gini bakalan agak sepi, ehh ternyata kami salah. Masih aja rame. Bule-bule pun juga banyak yang berkunjung kemari. Tapi nggak apalah ini tandanya emang Indonesia itu udah top di luar sana, iya nggak sob?

Kita perlu berjalan lagi supaya bisa sampai ke candi Borobudurnya, melewati taman-taman yang indah dan tertata rapi. Sejuk juga pastinya. Nah ada sedikit informasi ya sob, kalau mau kesini pastikan kamu pakai celana panjang, ya minimal dibawah dengkul. Misalkan lupa gimana? nanti sebelum masuk ada pos petugas yang menawarkan sarung bagi siapa saja pengunjung yang memakai celana pendek. Tenang aja, gratis. Bahkan bule-bule pun juga kelihatan seneng tuh memakainya.

Sebelum kesini tadi juga ada temen saya yang bilang lewat hp kalau kesini jangan siang-siang panas soalnya. Tapi apa boleh buat udah terlanjur sampai. Hahaha.. Yah jangan lupa pakai topi sob, kalau nggak pengen kepanasan.

Biasanya setelah sampai para pengunjung langsung buru-buru menuju ke puncak candi. Ya nggak heran sih, soalnya dari atas pemandanganya awesome banget. Nah kalau keatas kita musti sedikit berjuang lagi nih sob. Kita harus melewati barisan anak tangga yang nggak sedikit. Awas jangan berhenti di tengah jalan ya, nanti yang dibelakang pada ngomel. Setelah sampai diatas apakah perjuangan kita bisa dibilang selesai? Hahaha.. nggak juga, soalnya diatas kita musti muter-muter cari tempat yang enak buat nyantai ( melepas lelah ). Kalau terpaksa ramai semua ya apa daya.

Mengunjungi Wisata Legendaris, Pantai Parangtritis Dan Pantai Karang

Bantul - Oke jadi di postingan kali ini saya nggak akan membahas tuntas mengenai pantai Parangtritis, ya karena diluar sana udah banyak yang menyinggung masalah objek wisata yang satu ini, jadi saya mau bercerita aja.

Parangtritis memang merupakan pantai fenomenal di daerah Yogyakarta, khususnya di daerah Bantul. Bagaimana tidak dahsyatnya ombak sampai-sampai ada aja berita duka datang dari pantai ini. Walaupun demikian tidak menyurutkan rasa penasaran dan ingin singgah kesini bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.

Bantul | Pantai Parangtritis | Wisata Yogyakarta
Saya pribadi terakhir kesini kapan ya? Entah masih SD kelas berapa gitu pokoknya. Bagaikan karyawan yang menantikan hari libur betapa senang hati ini karena setelah lama nggak menengok pantai ini akhirnya saya diberikan kesempatan untuk singgah kemari. Wah pokoknya beda banget deh sama yang dulu. Yang bikin tambah heran adalah saya punya keluarga yang tinggal disekitar sini, bahkan ayah saya juga lahirnya didesa dekat sini. Memang sih selama lebaran silaturahmi kesini doang terus pulang ( nggak nginep ). Makanya maklum saja kalau nggak mampir ke pantai parangtritis.

Perjalanan kami mulai dari rumah sekitar jam 7 pagi, dan sampai sana jam 12 lebihlah. Kami? ya maksudnya saya dan kedua sahabat saya. Itu sudah termasuk istirahat. Hanya berbekal GPS saja Alhamdulillah kami sampai tujuan dengan selamat, tanpa ada kekurangan.

Singkat cerita kami udah sampai ke lokasi, biaya tiket masuknya cukup murah kok sob, cuma Rp.4.000/ orang saja. Nah dari pintu gerbang tempat pengambilan karcis kita perlu maju sedikit lagi buat cari lokasi parkir yang nyaman. Untuk menuju kemari kita bisa menggunakan sepeda motor, mobil, dan bus besar sekalipun.

Lagi-lagi kejadian! kami nggak belajar saat kemarin main ke Dieng, yaitu nyari mini market buat nyemil dilokasi nanti. Mini market itu ada, banyak malah. Cuma karena kami suka menunda nunda "Ahh nanti aja disana", "Nanti di kiri jalan biar nggak nyebrang", "Itu ada, lah udah kelewat nanti aja didepan". Ya jadi seperti itulah problem kami. Alhasil sampai di tempat tujuan kami ( Lagi-lagi..!! ) nggak bawa apa-apa. #ngenes. Tapi enggak separah itu kok, Alhamdulillahnya ada mini market di dekat parkiran jadi kami jalan kaki lagi kurang lebih 200 meter buat nyamperin si mini market itu. Alasan utama kami kenapa jajan di mini market bukan di tempat wisatanya adalah Harganya lebih murah + kami udah tau harganya. Jadi kurang lebih ya segitu. Kalau di tempat wisatanya kemungkinan bisa melonjak-lonjak harganya.

Udah beres semua lanjut kita menuju ke bibir pantai. Dari tadi nggak sabar pengen ndang tekan. Tapi setelah sampai apa coba? kami malah tiduran malas malasan di warung yang tutup. Iyalah kalau buka disemprot sama yang punya kali ya? Hahaha.. Jadi alasan kami kenapa kok malah tiduran nggak langsung cus ke bibir pantai adalah ya karena secara ini kan siang bolong ya, jadi kemungkinan panas banget kan kalau langsung ke sana. Ya itung-itung sekalian ngisi tenaga setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh.

Waktu udah menunjukan jam 2 siang, akhirnya saya memberanikan diri buat muter-muter disekeliling pantai. Ternyata nggak seperti yang saya pikirkan, pantainya nggak panas-panas banget kok. Sebenarnya mau ke ujung Timur pantai, karena disana kayaknya bagus banget. Pantainya ada karang-karangnya gitu. Tapi mengingat di warung tadi ada salah satu temen yang jaga barang-barang akhirnya saya memutuskan buat kembali ke warung dan mengajak temen-temen untuk mengeksplorasi pantai parangtritis, mumpung cuaca sedang cerah.

Nah disini banyak banget hal yang bisa kita lakukan nih sob. Mulai dari bersantai di bibir pantai, berbaring di tenda yang sudah disediakan, naik kuda, bermain ATV, naik dokar, bermain layang-layang. Atau sekedar jalan-jalan kesana kemari.

Pantai Karang | Wisata Bantul | Pantai Yogyakarta
Yang menarik lagi adalah jika kita perhatikan di ujung Timur maka kita akan melihat bebatuan yang tinggi ( karang ), seperti yang saya katakan tadi kalau saya masih penasaran dengan yang ada disana, ada apa ya kira-kira? memang untuk menuju kesana nggak dekat. Dibutuhkan waktu kira-kira 15 sampai 20 menit jalan kaki agar bisa sampai kesana. Tapi kalau mau nyewa dokar juga nggak masalah sih. Usut punya usut ternyata ini pantai karang, masih satu lokasi dengan parangtritis namun udah beda nama. Wah keren banget deh sob.

Disini banyak sekali batu-batu karang yang terpampang luas. Bahkan ngeri juga kalau berada di bawahnya langsung. Bagaimana tidak sobat, bayangkan saja kita berada di batu yang besar sekali dan tingginya berlipat-lipat tinggi badan kita? Hahahaha.. ya kalau ngeri nggak usah dibawahnya juga nggak papa kok. Karang ini masih alami dan yang pasti bakalan sakit kalau kena kulit, karena batu karang kan secara permukaanya kasar. Dibandingkan di pantai Parangtritis memang disini sedikit sepi ( waktu saya kemari ) nggak jarang pula ada dokar sampai sini nganter pelanggan. Itu sih cuma sebentar kemudian balik lagi.

Waktu udah semakin sore, akhirnya saya dan teman-teman bergegas meninggalkan pantai karang ini. Ya nggak sore-sore banget sih, sekitar jam 4. Sebelum pulang kami mengunjungi sebuah tugu. Apa hayo? cuma tugu bertuliskan parangtritis gitu aja sih, Hahaha.. nggak tau kenapa disini ramai banget. Mungkin karena ini adalah salah satu ikon pantai parangtritis kali ya #NebakAja.

Ada sedikit informasi nih sob. Buat kalian yang mau kesini ati-ati ya sob. Jadi gini. Kalau kalian lihat ada tikar atau bangku kosong jangan diduduki kalau nggak mau disamperin sama orang terus disuruh bayar. Tapi kalau kalian emang mau bayar sih nggak masalah, takutnya nanti malah kalian kecewa. Makanya dari awal saya ingatkan.

Setelah puas melihat pantai parangtritis, pantai karang, dan tugunya kami memutuskan untuk pulang. Bukan pulang kerumah yang ada di Kendal tapi ke rumah saudara temen saya yang ada di Sleman. Walaupun saya sendiri juga punya saudara disini tapi kami memilih di Sleman karena lebih dekat kalau mau pulang besok. Waktu semakin sore, nggak mau kemalaman akhirnya kami cus tancap gas ke Sleman.

Oleh-Oleh Khas Dieng Yang Sayang Nggak Dibawa Pulang

Serba-serbi - Yang masih kluyuran di Dieng masih terbesit pengen beli oleh-oleh buat yang dirumah nggak nih sob? buat keluarga, sahabat, atau calom mertua mungkin? Nah kalau kamu masih bingung mau cari apa-apa aja yang khas dari Dieng berikut ini akan saya kasih oleh-oleh yang mantap dah buat yang dirumah.

Sebagai daerah dataran tinggi nggak salah kalau Dieng mempunyai beberapa makanan khas yang sukar sekali ditemukan di daerah lain. Yang pasti ada yang alami dan ada yang olahan. Tentu saja keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, tergantung selera lidah kita masing-masing. Langsung saja, ini dia.

1. Carica / Pepaya Gunung
Buah Carica | Dieng
Kalau ditanya apa itu carica mungkin orang yang belum pernah ke Dieng bakalan bingung tuh kayak apa sih buahnya. Nah buah carica ini sebenarnya adalah pepaya gunung. Buah kecil imut nan mungil ini biasanya sering kita jumpai di lahan-lahan pertanian milik warga setempat. Pohon dan daunya juga persis dengan pepaya, cuma untuk carica ini baunya lebih harum. Jika kamu penasaran ingin mencicipinya kamu bisa langsung cek di lokasi pusat penjualan oleh-oleh di sepanjang jalan Dieng. Harga perkilonya juga nggak mahal-mahal banget, masih terjangkau dan masuk akal. Untuk masalah kandungan carica sendiri mengandung kalsium, vitamin A & C, gula, dan minyak atsiri. Selain bisa langsung disantap ( dikupas dulu kulitnya ) buah ini paling enak dibikin jus nih sob. Rasanya manis masam dan pokoknya menyegarkan. Disini carica juga dibuat berbagai olahan loh sob seperti manisan, selai, keripik dan lain sebagainya.

2. Manisan Carica
Yang nggak kalah uniknya lagi kita juga bisa menemukan olahan dari carica itu sendiri, salah satunya adalah manisan carica. Untuk rasa nggak diragukan lagi deh pokoknya. Dijamin bikin kamu ketagihan. Harganya juga masih terjangkau, mulai dari 15 ribu kita bisa mendapatkan 6 cup manisan carica. Nah ada juga nih yang lebih mahal 20 ribu keatas, tentu saja bedanya isi irisan carica yang lebih mahal pasti lebih banyak. Biasanya para wisatawan yang berkunjung ke Dieng kebanyakan dari mereka mengincar manisan carica ini loh sob, bagaimana? penasaran kan? makanya catat nih manisan carica dalam list oleh-olehmu kalau ke Dieng.

3. Aneka Keripik Camilan
Kalau mau cari yang kering nggak usah khawatir sob, karena disini udah ada banyak pilihan keripik yang cocok buat camilan kamu dirumah. Kalau tadi kita udah bahas buah carica, terus manisan carica, coba deh sekarang kamu incipi keripik carica. Rasanya renyah, gurih, dan manis. Mantap... Untuk masalah harga sendiri satu bungkus snack keripik carica dihargai mulai 20 ribu per bungkus. Terbilang terjangkau ya kawan? nah selain itu masih ada beberapa pilihan keripik lain nih seperti keripik jamur kuping, jamur kancing, jamur tiram, dan aneka kacang-kacangan. Wah banyak ya, biar makin mantep pilihanya mending langsung samperin aja deh yang jual. Hahaha..

4. Terong Londo / Terong Belanda
Buah bernama ilmiah Solanum betaceum ini memang bikin orang penasaran. Awalnya saya juga bingung keheranan melihat buah yang satu ini, saya kira sawo kecik. Habis mirip sih. Ehh ternyata taunya terong londo. Pastinya beda ya sob sama terong yang sering kita jumpai di penjaja sayur di kampung kita. Terong yang satu ini berukuran lebih mungil ketimbang terong sayur. Walaupun bukan buah asli Indonesia namun buah ini menjadi salah satu oleh-oleh fenomenal di dataran tinggi Dieng. Ya walaupun biasanya para wisatawan lebih melirik Carica dari pada terong ini. Nah yang nggak kalah unik adalah cara memakannya. Nggak bisa kita langsung main embat gitu aja ya sob. Caranya kita gigit sedikit atau cuil pakai kuku di ujung atas buah kemudian kita hisab-hisab. Wah jadi vampir dong? hahaha.. Kalau nggak mau repot kamu bisa mengelohanya menjadi jus, ini jauh lebih praktis ketimbang kamu ngisep buahnya. Rasanya manis asam, tapi lebih dominan asam. Harganya juga sangat murah kok sob cukup dengan uang 7.500 kita bisa dapat buah ini 1 kilo. Fantastis. Untuk masalah kandungan terong belanda kaya akan vitamin A & C yang berguna untuk kesehatan mata dan mengobati sariawan, serta mencegah kanker dan sembelit.

Nah itulah tadi beberapa oleh-oleh yang bisa kamu bawa pulang ketika pergi ke Dieng. Mungkin untuk buah carica dan terong belandanya cukup asing ya sob, ini karena kedua buah tersebut merupakan tanaman pegunungan. Ya maklum aja kalau di dataran rendah kita nggak bakalan menjumpainya.

Selain ke 4 yang saya sebutkan diatas sebenarnya masih banyak lagi oleh-oleh yang bisa kamu beli, cuma biasanya para wisatawan lebih memburu makanan diatas. Gimana kawan, udah dicatat belum? mau bawa pulang yang mana?

Danau Belerang Dieng Apalagi Kalau Bukan Kawah Sikidang

Wonosobo - Kemana lagi kita kali ini? Enggak kemana-mana kok sob, kita masih di Dieng Wonosobo. Masih ngebahas wisata menarik lainya? Kali ini beda ya bukan telaga lagi, yaitu kawah Sikidang. Yang masih satu komplek dengan Telaga Warna tentunya. Jaraknya juga enggak jauh kok sob. Dari telaga warna lurus terus keatas kurang lebih setengah kilo nanti kita akan melihat papan petunjuk arah menuju kawah sikidang.

Nah yang nggak kalah asyiknya lagi adalah lokasinya nggak jauh dari jalan raya. Kalau kita mau ke Sikunir nanti pasti akan melihat telaga sikidang ini dari pinggir jalan.

Oke setelah sampai ketujuan langsung saja parkirkan kendaraan kita ke tempat yang disediakan. Untuk masalah tarif parkir saya rasa masih standar kok, nah kalau untuk tiket masuknya sendiri cuma Rp.5.000/ orang. Termasuk murah meriah ya sob?

Nah sebelum masuk ke kawasan wisata jangan lupa pakai masker, syukur-syukur bawa dari rumah tapi kalau misalkan lupa disini udah banyak kok yang jual, jadi nggak usah khawatir. Kenapa musti pakai masker? ya tentu saja karena bau belerang itu sendiri ya sob. Udah pada tau kan baunya kayak apa?

Untuk menuju ke sumber belerang kita musti berjalan kaki kira-kira 100 - 200 meter dari lokasi parkir. Nanti sebelum sampai kita juga akan melewati pasar kawah sikidang. Pasar tersebut menjual berbagai aneka oleh-oleh khas Dieng. Banyak sih, mulai dari makanan, minuman, terus ada mainan, hiasan, dan aneka pernak-pernik. Kalau misalkan kamu mau bawa oleh-oleh nggak ada salahnya lihat-lihat disini. Lapar? tenang sob, silahkan saja muter-muter nyari tempat makan disekitar sini.

Sekedar info ya sob. Kalau kamu mau memacu adrenaline disini ada jasa penyewaan motor trail. Wah seru banget ya kayaknya main motor di sekitar kawah. Nggak usah takut nabrak pengunjung lain, soalnya disini udah ada lintasanya, jadi bahayanya bisa terminimalisir. Untuk masalah tarif silahkan hubungi pengelola secara langsung ya sob, soalnya pas kemarin kesana nggak sempet mainan kayak begini. Hehehe..

Disini terdapat banyak kawah-kawah belerang, namun yang paling besar berada diatas. Yang ada pagarnya. Nah disana kita bisa merebus telur nih sob. Cuma kita dilarang untuk masuk ke bibir kawah untuk merebus telur sendiri, ya karena berbahaya dong pastinya. Kalau kalian pengen merebus telur nanti disini udah ada pawangnya yang siap merebuskan telur kamu. Ternyata nggak cuma hewan buas aja ya yang ada pawangnya? hahaha.. Pertama-tama telurnya dimasukin ke plastik terlebih dahulu, terus kemudian diikat pakai tali yang ada gagangnya. Jadi seolah-olah si pawang ini sedang memancing. Tunggu beberapa saat dan taaaraaa...

Walaupun belerangnya sangat panas namun udara disekitar sini terbilang sejuk-sejuk dingin. Karena berada di daerah pegunungan. Selain itu disekelilingnya masih terlihat hamparan jajaran pepohonan yang lebat, sehingga dapat menyegarkan mata kita. Lumayan cuci mata.

Terus yang berikutnya ada fasilitas umum nih sob, saya rasa cukup lengkap. Mulai dari area parkir yang luas, pusat oleh-oleh, bukit-bukit tempat pandang kawah, toilet, mushola, dan lain sebagainya termasuk tempat sampah. Nah biar tempat ini makin sip buat yang berkunjung kemari jangan buang sampah sembarangan ya sob?

Melihat Telaga Warna Dari Batu Ratapan Angin

Wonosobo - Masih muter-muter di telaga warna Dieng nggak nih sob? kalau iya udah muter sampai mana aja? udah ke batu rata belum? Itu hlo sebuah tempat pandang yang masih selokasi dengan telaga warna? Oke kalau belum mari kita simak pembahasanya bersama-sama.

Masih melanjutkan artikel saya mengenai telaga warna, kali ini saya akan berbagi tempat yang cocok banget buat menikmati keindahan telaga warna. Ini semua bermula saat saya sedang asyik muter-muter di kawasan telaga warna, nah disana saya nggak sengaja melihat papan petunjuk arah ke batu rata. Ya karena masih satu lokasi kan sayang banget kalau cuma dilewatin doang, maka dari itu saya memutuskan untuk menelusurinya sekaligus membuang rasa penasaran mengenai batu rata.

Batu Rata Dieng
Dari bibir telaga warna tinggal ikuti saja papan petunjuk arah yang ada di dekat mushola, kemudian naiki anak tangga yang sudah ada. Dari bawah kita musti berjalan lagi kurang lebih 15 menit agar bisa sampai ke lokasi. Kalau masalah naik sih nggak begitu ya sob, meski kita akan melewati beberapa anak tangga tapi nggak banyak kok. Nah sebelumnya nanti kita akan bertemu sama bapak-bapak pengelola untuk dimintai sumbangan seikhlasnya. Maksud lainnya adalah kita musti bayar tiket masuk seikhlasnya.

Menurut beliau di batu rata sendiri ada 3 objek top buat melihat pemandangan telaga warna, namun dari ke 3 objek tersebut cuma 1 yang saya singgahi.

Setelah sampai kita bakalan takjub melihat pemandangan yang ditawarkanya. Wah pokoknya awesome banget deh sob. Rasa lelah akibat melewati beberapa anak tangga seolah-olah hilang begitu melihat pemandangan yang indah ini. Rasa syukur juga senantiasa kita panjatkan kepada Sang Pencipta karena telah menciptakan alam Indonesia yang luar biasa indah ini.

maklum aja sob kalau disini ramai suasananya, karena batu rata termasuk salah satu objek buruan para wisatawan. Kalau pengen sepi datang kesini agak pagi sedikit. Hehehe..

Ohh ya yang dibukit sebelah terdapat sebuah jembatan? ini berguna buat kalian yang mau menguji adrenaline. Jadi jembatan itu melintang diantara satu bukit dengan yang lainnya, nanti kita disuruh melewati jembatan tersebut. Memang sih sekilas enteng dan biasa aja. Tapi kalau udah berada diatasnya ya nggak tau juga gimana rasanya.

Bebatuan yang ada disini memang nggak ada bedanya sama batu-batu pegunungan yaitu dibeberapa bagianya ditumbuhi lumut, rumput, dan pohon. Bedanya adalah pemandangan yang ditawarkan sungguh luar biasa, makanya kalau kesini jangan sampai lupa ke batu rata ya?

Nah udah tau kan sedikit gambaran mengenai objek wisata batu rata yang ada di telaga warna ini? makanya sob jangan sampai kelewatan ya, rugi deh dijamin. Ohh ya pas kesini saya cuma datang di satu tempat aja.