[Alun-Alun Boyolali] Bagaikan Nyasar Di The Milk Balloon Festival

Boyolali tersenyum.. Boyolali kota susu.. Ya.. Inilah kota tercinta tempat dimana saya lahir. Sebuah kota yang berada di antara kota besar Semarang dan daerah Istimewa Yogyakarta. Alhamdulillah.. hari ini saya berkesempatan berkunjung ke kampung halaman tercinta, namun tidak seperti biasa karena saya datang kemari untuk melihat festival balon di alun-alun Boyolali tepatnya.

Berawal dari informasi yang ada di situs jejaring sosial kala itu saya melihat sebuah gambar poster yang memberitakan soal festival balon ini. Karena penasaran saya pun tertarik untuk mengunjunginya. Ohh iya.. festival balon ini bukanlah balon udara yang ukuranya gede-gede itu ya sob, melainkan balon biasa yang biasa dimainkan oleh anak-anak.

(03/12/16) Saat perjalanan menuju ke Boyolali saya lihat cuaca sangat cerah dari rumah hingga daerah Ambarawa. Namun begitu sudah memasuki Salatiga saya melihat awan mendung hingga sampai di Boyolali. Sampai di daerah Ampel hujan pun turun. Alhamdulillah.. hujan adalah berkah.

Sebenarnya saya bawa jas hujan cuma karena males pakainya jadi saya memutuskan untuk ngiyup (berteduh) menunggu hujan agak mereda. Itung-itung juga sekalian istirahat setelah menempuh perjalanan yang lumayan. Kira-kira 30 - 45 menit kemudian hujan pun mereda. Meski belum reda total dan masih gerimis saya kembali melanjutkan perjalanan.

Wussssss... Singkat cerita saya sudah sampai di kota Boyolali dan kini saatnya untuk menuju ke alun-alunya. Ditengah-tengah perjalanan menuju ke alun-alun saya melihat ada sebuah tugu jagung yang cukup besar di seberang jalan. Ohh ini toh tugu jagung yang dimaksud, pikir saya dalam hati. Iya tugu ini sempat populer pada bulan Oktober yang lalu untuk memperingati hari pangan sedunia. Tugu jagung ini memiliki ketinggian 15 meter dengan diameter 3 meter #Baca_Info_Dibawahnya.

Oke next.. Saya pribadi juga kurang paham mengenai tempat diselenggarakanya festival balon ini sob. Menurut info sih di at the milk Boyolali. Saat sedang asyik muter-muter mencari lokasinya gerimis pun kembali turun.

Akhirnya saya memutuskan untuk singgah sejenak di Masjid Ageng Boyolali ini serambi istirahat dan menunggu hujan agak mereda.

Tak lama kemudian saya kembali melanjutkan pencarian walaupun masih gerimis. Biasanya kalau ada event gini kan ada spanduk atau posternya di pinggir jalan ya? kok ini nggak ada, pikir saya. Akhirnya laju motor saya pun kembali terhenti di jalan dekat lembu suro.

Yaudahlah tak istirahat #lagi sambil nyari info. Saya kembali buka akun jejaring media sosialnya buat mencari kepastian dimana tempatnya. Katanya sih at the milk alun-alun Boyolali, ini pasti nama tempatnya at the milk, pikir saya.

Hloh.. itu apa'an ya? begitu saya melihat sebuah bangunan di dekat lembu suro. Kok motor-motor pada dateng kesitu + ada poster-poster mencurigakan gitu ya? Apa jangan-jangan itu? tanpa pikir panjang saya percaya diri langsung aja ikutan masuk. Dan....

Owalah ternyata ini tempatnya. Jadi dari tadi tu saya berada di depanya. Hahahahaha.. wah ndlenger ki.. jan.. jan.. Oke jadi begitu saya lihat banyak balon dan poster "The Milk Ballon Festival" yakin 100% ini tempatnya. Wait! sebelumnya pengunjung perlu membayar tiket parkir sebesar Rp.2.000/motor dan Rp.5.000/ mobil.

Setelah memarkirkan kendaraan saya membeli tiket masuk yang udah dijual di depan area. Harga tiketnya Rp.10.000/ orang dan beli 5 gratis satu #katanya.

Begitu masuk didalam area saya melihat ada sebuah mobil tua. Kalau dulu saya nyebutnya mobil kodok yang terparkir dan dihiasi banyak balon. Cuma karena kondisinya yang sangat ramai dipadati para pengunjung saya tidak sempat mengambil gambarnya secara full.

Perasaan saya nggak enak nih begitu melihat banyak bangku-bangku dan banyak para pengunjung yang makan dan minum dengan asyiknya. Kayaknya ini bukan tempat saya deh, ini kayaknya kafe atau tempat makan, pikir saya dalam hati. Setelah berjalan ke arah ujung #yaelah ternyata bener ini kafe begitu saya melihat ada yang menyajikan makanan.

Wah gimana nih mau out langsung atau enggak ya, pikir saya bingung. Ini belakang saya udah pintu keluar soalnya. Wkwkwkw..

Ohh iya disini rupanya ada 2 mobil tua. Yang pertama di dekat pintu masuk dan yang kedua di dekat pintu keluar. Mengambil gambar mobil pas dalam keadaan sepi seperti itu memang nggak mudah sob, karena banyaknya para pengunjung yang mengabadikan momen disini.

"Mas ini sampai kapan to acaranya?" tanyaku kepada petugas yang memumpa balon.
"Sampai besok minggu mas, dari tanggal 2 - 4." jawabnya.
"Ohh.. ini yang ngadain siapa ya mas?" tanyaku lagi.
"Yang punya tempat mas." jawabnya.
"Ini kafe ya mas?" tanyaku lagi.
"Iya mas." jawabnya.

Akhirnya percakapan kami berakhir begitu si masnya ada kerjaan lagi. Udah sendirian disini, bingung mau ngapain. Bingung.. bingung.. Hahaha.. Nah, mungkin kalian akan bertanya, kok nggak ikutan makan aja mas? Saya punya beberapa alasan. Yang pertama tempatnya ramai, walaupun tingkat 2. Yang kedua saya nggak biasa makan di kafe-kafe gini, biasanya juga di warteg atau kucingan (warung makan yang bukanya tiap malam doang). Jadi mohon maaf tidak bisa memberitakan menu apa saja yang tersedia disini. Hehe..

Dan... akhirnya saya putuskan untuk out juga, daripada mondar mandiri kesana kemari tanpa tujuan.

"Sudah mas." ujarku kepada penjaga parkir sambil ngasihkan karcis parkir.
"Ohh iya mas, motornya yang mana?" tanya dia.
"Itu yang hijau." jawabku pelan.
"Ini kafe to mas?" tanyaku kepadanya.
"Iya mas kafe, dengan menu spesial susu." jawabnya sambil mengeluarkan motor saya.
"Udah lama atau baru ini mas kafenya?" tanyaku lagi.
"Baru kok mas, belum ada setahun." jawabnya sambil memberikan stang motor.
"Ohh..
"Yaudah mas mari.." saya berpamitan.
"Iya.. mas."

Sebelum untuk bener-bener pulang saya sempatkan untuk berkeliling alun-alun dahulu, ceritanya temu kangen karena udah lama nggak kesini. Hehehe..

Hijaunya Hutan Mangrove Edupark Maroon Semarang

Pantai maroon merupakan objek wisata pantai yang berada di daerah Semarang tepatnya di Tugurejo, Tugu, kota Semarang. Yang menjadi daya tariknya bukan hanya wisata pantainya saja sob, melainkan disini terdapat hutan mangrove atau istilah kerenya mangrove edupark maron.

Adapun rute yang bisa kita pakai kalau ingin berkunjung ke pantai maroon atau ke hutan mangrove maroon adalah lewat Kalibanteng. Jika kamu dari arah Semarang Barat / Kendal setelah melewati lampu bangjo Krapyak 2 ( sebelah kirinya ada Samsat III Semarang ) lurus sedikit lagi. Perhatikan halte bus trans Semarang di kiri jalan. Persis di sebelah halte bus tersebut terdapat jalan masuk kekiri. Silahkan masuk ke jalan tersebut kira-kira 500 meter sampai melewati rel kereta api. Nah setelah itu akan ada papan penunjuk arah menuju ke pantai maroon.

(27/11/16) Di kesempatan pagi yang cerah ini saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke hutan mangrove maron. Niat dan tujuan saya dari rumah cuma ingin ke hutan mangrovenya saja. Karena penasaran akan tempat dan keindahanya yang ditawarkanya.

Saya berangkat dari rumah sekitar jam 8 pagi. Terlalu siang ya? maklum aja karena lokasinya nggak jauh-jauh amat dari rumah. Sekitar 30 sampai 45 menit perjalanan. Saya juga menggunakan rute yang saya sebutkan diatas. Karena beberapa waktu yang lalu saya sempat berkunjung ke pantai maron makanya saya nggak kaget akan jalan dan medan yang nanti akan saya lewati.

Nah menurut papan penunjuk arah kita harus melanjutkan perjalanan lagi kira-kira 3Km. Oke semangat.. semangat.. Bentar-bentar sebelum melanjutkan perjalanan waktu saya berkunjung ke pantai maron dulu objek wisata maroon mangrove eduparknya belum ada ya sob. Maklum saja karena kawasan hutan mangrove maroon ini masih terbilang fresh..

Next.. Perjalanan sejauh 3Km tersebut harus kita lalui dengan medan yang terjal. (27/11/16) Jalanan masih berupa tanah liat. Jangan lupa pakai masker ya sob.

Selama perjalanan kita dapat melihat bandara Ahmad Yani Semarang dari dekat. Kalau beruntung kita bisa melihat kesibukan bandara dengan adanya pesawat yang hendak terbang ataupun turun.

Tak beberapa lama kemudian saya berjumpa dengan seseorang penjaga tiket. Perlu membayar tiket masuk sebesar Rp.5.000 untuk melanjutkan perjalanan. Ohh iya biaya tersebut dihitung per orang atau per motor saya kurang paham ya sob. Soalnya kemarin saya sendirian dan menggunakan sepeda motor.

Setelah menempuh medan yang lumayan terjal akhirnya sampai juga saya di lokasi maroon mangrove edupark. Saya lihat pengunjung yang datang tidak terlalu ramai hanya ada beberapa sepeda dan sepeda motor saja yang terparkir dilokasi parkir. #Lagi kita harus membayar tiket masuk sebesar Rp.5.000 untuk masuk ke kawasan hutan mangrovenya. Jadi gini sob yang pertama tadi adalah tiket masuk untuk masuk ke pantai maroon sob, nah jadi kalau kamu habis ini mau ke pantainya silahkan aja langsung nggak papa.

"Ini sudah lama atau baru ya pak?" tanyaku kepada penjaga tiket.
"Masih baru mas, nembe dibukak kok?" jawabnya.
"Ya sekitar bulan Maret (2016) yang lalu." imbuhnya.
"Wah masih seger dong pak, soalnya waktu itu saya main ke pantai maroon ini belum ada." ujarku.
"Hehehe.. iya mas, soalnya masih baru." jawabnya.
"Ohh.... yaudah pak, tak masuk dulu." ucapku menutup obrolan.
"Ohh iya mas, silahkan."

Setelah memasuki hutan mangrove saya melihat ada sebuah menara berwarna biru yang terletak di dekat pintu masuk. Maksud hati ingin naik namun karena disana ada orang jadi saya pending dulu nanti pas sepi.

Saya berusaha menyusuri jalan demi jalan yang telah disediakan. Jalan ini hanyalah sebuah batang bambu melintang yang berada di atas tambak. Yang membuatnya semakin terlihat cantik adalah pinggir-pinggirnya terdapat hijaunya tanaman mangrove. Mangrove / bakau = Rhizophora mucronata.

Adem banget lihat hijaunya pepohonan mangrove. Makanya lets go green ya sob. Biar bumi makin hijau. Biar yang lihat adem, makin seger, makin sehat, makin berkah.. Amiiin..

Karena penasaran saya perlahan lahan mengikuti jalan bambu ini terus.. terus.. dan terus.. saya kira bakalan tembus kemana gitu. Ehh.. rupanya udah diujung aja. Hahaha. Jadi diujung jembatan ini terdapat gazebo untuk beristirahat. Ada beberapa gazebo yang tersebar di berbagai sudut, salah satunya ada di pojok sini.

Tak lama kemudian saya kembali putar balik setelah beristirahat disini beberapa menit. Saya lihat ada orang yang mancing juga diantara rerimbunan pohon mangrove.

Dan... saya sampai di gazebo tengah-tengah hutan. Tadi pas waktu berjalan ke ujung saya juga sempat melewati gazebo ini cuma karena tadi ada yang nongkrong disini jadi nggak enak kalau ikutan gabung. Makanya saya pending dulu singgahnya. Kebetulan sekali pas saya mau ke menaranya disini malah sepi. Ya udah mampir dulu aja, serambi membaca informasi yang ada.

Nah disini banyak hloh informasi-informasi yang tersebar dan dipasang di papan maupun disela-sela pepohonan. Jadi selain berwisata kita dapat sekalian belajar disini. Ohh ya ngomong-ngomong ini kan saya mau ke menaranya. Oke cekidot kemon.. mumpung sepi nggak ada orang..

Menara ini memang nggak begitu tinggi sob, tapi tetep harus hati-hati saat memanjat dan berada diatas ya sob. Perlahan-lahan saya menampakkan kaki di anak tangga. Tak lama kemudian sampailah saya di atas. Alhamdulillah.. seger banget.. melihat pemandangan dari atas.

Nampak dari atas menara kita dapat melihat pantai maron. Atau laut Jawa ya kalau di peta. Nah misalkan kamu mau mampir ke pantainya jaraknya dari sini nggak terlalu jauh kok sob.

Disisi lain kita dapat melihat kesibukan bandara Ahmad Yani Semarang. Nampak terlihat pesawat yang lepas landas maupun turun ke bandara. Ditunggu aja ya sob antara 10 sampai 15 menitlah. Nanti bakalan ada pesawat yang kesini.

Sedangkan disudut lain kita dapat melihat pemandangan kota Semarang lengkap dengan gunung Ungaran di sebelah Selatan. Namun pas saya kesini kemarin keadaan gunung Ungaran sedang terselimuti oleh kabut. Jadi nggak begitu kelihatan.

Saat berada diatas sini tiba-tiba datanglah orang lain yang naik ke menara ini. Goyange rak karuan. Jadi agak serem juga nih. Hehehe.. Tapi nggak papa yang penting nggak banyak-banyak yang naik kesini.

Waktu semakin siang. Para pengunjung bersilih ganti datang dan pergi. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang juga.

"Sudah mas?" sapa bapak-bapak yang tadi jaga tiket.
"Iya pak.. kok agak sepi ya pak?" tanyaku penasaran.
"Iya soalnya sudah siang mas, biasanya pagi atau sore." jawabnya.

Percakapan singkat kami berakhir begitu saya berpamitan dengannya untuk pulang..

Ohh iya.. masalah fasilitas disini kemarin cuma ada toilet di parkiran, gazebo, menara pandang, papan informasi, tempat sampah, sama warung ditengah-tengah hutan. Semoga kedepan objek wisata mangrove edupark maroon ini dapat berkembang lebih baik lagi, sehingga semakin menarik minat para pengunjung yang datang kemari.

Ndelok Waduk Sermo Soko Kalibiru

Kalibiru merupakan salah satu objek wisata yang berada di daerah Kulon Progo yang akhir-akhir ini naik daun namanya. Terletak di daerah dataran tinggi desa wisata Kalibiru, Sermo, Hargowilis, Kokap Kulon Progo para pengunjung akan dimanjakan dengan panorama alam berupa hijaunya pemandangan sekitar dan waduk sermo yang berada diantara perbukitan.

Objek wisata Kalibiru kini semakin terkenal saja bahkan sampai ke mancanegara. Ini ditandai pas kemarin saya kesini sempat bertemu bule. Wah mereka kayaknya penasaran dan ingin travelling in Indonesia nih..

Oke, jadi setelah kemarin saya berkunjung ke air terjun kembang soka saya melanjutkan perjalanan ke objek wisata Kalibiru. Perlu waktu hampir 30 menit dari air terjun kembang soka untuk saya supaya bisa sampai disini. Berbekal petunjuk arah dari si bapak penjaga tiket di objek wisata kembang soka tadi saya bergegas dan percaya diri menyusuri jalan demi jalan di balik perbukitan. Rute yang saya gunakan dari air terjun kembang soka adalah dengan lurus terus mengikuti jalan besar sampai bertemu pertigaan seperti huruf T. Setelah itu ambil kiri dan bablas terus mengikuti petunjuk arah ke Kalibiru.

Melewati daerah perbukitan dan medan naik turun serta kelokan tajam menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Medan aspal yang berubah menjadi bebatuan terkadang menyulitkan saya mengendarai sepeda motor. Perlahan namun pasti saya menyusuri jalan serta petunjuk demi petunjuk agar bisa sampai di objek wisata Kalibiru.

Singkat cerita saya sudah sampai di Kalibiru. Alhamdulillah.. Setelah menempuh medan yang lumayan akhirnya saya bisa bernafas lega begitu melihat ramainya mobil-mobil yang terparkir di lokasi dan para pengunjung yang berlalu lalang. Saya lihat ada seseorang manggil-manggil saya dari kejauhan sambil melambaikan tangan. Ternyata do'i adalah tukang parkir. #HAHA.

Setelah membayar tiket Rp.2.000 saya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke gardu pandang Kalibirunya. Saya lihat ada papan informasi bahwa puncaknya sejauh 100 meter lagi. Lets go.. Semangat..

Ohh iya.. Sebelumnya kita perlu membayar tiket masuk sebesar Rp.10.000/ orang (26/11/16). Kalau hari minggu/ libur saya kurang tau apakah tetap sama atau naik. Setelah sudah mendapatkan tiket masuk saya kembali lagi melanjutkan perjalanan menuju puncak Kalibiru.

Disepanjang jalan menuju ke puncak saya lihat banyak terdapat beberapa pondok wisata Kalibiru. Bentuknya minimalis dan sederhana. Di sekeliling pondok tersebut ditanami dengan berbagai tanaman hias yang membuat suasananya menjadi sangat asri.

Selang beberapa lama saya melihat ada sebuah kolam yang dindingnya dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat sangat unik. Kolam ini memiliki jembatan kecil di tengah-tengahnya dan memiliki ikon berupa tulisan Kalibiru diatasnya. Tak jarang para pengunjung mampir disini untuk sekedar mengabadikan momen.

Nah disini terdapat dua jalur. Yang satu dikanan kolam dan yang satunya di kiri kolam. Karena saya lihat banyak yang pulang dari arah kanan maka dengan pedenya saya masuk dari arah kiri. Yang nggak taunya adalah yang kiri adalah pintu keluar. #Ealah.. Tapi nggak papa sih wong tembusanya sama saja.

Begitu sampai diatas saya melihat ada beberapa rumah pohon yang tersebar di beberapa titik. Persis sama yang saya lihat di internet dan sosial media. Untuk memanjat rumah pohon ini tentu saja harus didampingi ahlinya dan diwajibkan mengenakan tali pengaman.

Para pengunjung harus rela antri demi mengabadikan momen di atas rumah pohon ini. Tapi saya pribadi kemarin enggak mencoba naik ke rumah pohon. Saya lebih tertarik sama pemandangan waduk sermo didepanya. Hehehe.. Oke, rumah pohon yang satu ini makin lama makin ramai pengunjungnya sehingga memaksa saya untuk melanjutkan perjalanan mengikuti anak tangga.

Dan inilah dia waduk sermonya sob. Masya Allah.. Hijaunya pepohonan diperbukitan dan ditambah birunya langit menjadi penyejuk dan seolah rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh hilang begitu melihat keindahan pemandanganya.

Tak banyak hal yang saya lakukan disini. Hanya sekedar menikmati pemandangan alam yang ada. Maklum saja karena saya kesini sendirian jadi bingung juga mau ngapain ya enaknya. Ohh iya sob misalkan kamu mau kesini dan mau naik ke rumah pohonya kamu perlu merogoh kocek mulai dari Rp.10.000 hingga Rp.35.000/ orang. Tentu saja tiap-tiap rumah pohon memiliki tarif yang berbeda beda.

Untuk masalah fasilitas umum disini sudah terbilang lengkap karena sudah dikelola dan dikembangkan dengan baik. Ada mushola, toilet, berbagai rumah pohon, kantin & warung makan, pos informasi, tempat sampah, area parkir yang luas, pondok wisata, dan masih banyak lagi yang lainya.

Waktu sudah semakin siang dan ini tandanya saya harus angkat kaki dari objek wisata Kalibiru. Semoga saja keindahan dan kebersihan tempat ini senantiasa terjaga sehingga para wisatawan yang datang kesini pun semakin merasa nyaman.

Air Terjun Kembang Soka Yang Indah Dan Menawan, Alaminya Itu Hloh..

Air terjun kembang soka merupakan air terjun yang berada di desa Jatimulyo, pedukuhan Gunung Kelir, kecamatan Girimulyo, Kulon Progo. Air terjun ini terbilang unik karena dalam satu lokasi kita akan menjumpai banyak air terjun. Pemandangan yang asri dan alami ditambah dengan sejuknya udara dataran tinggi membuat objek wisata air terjun kembang soka menjadi destinasi tujuan yang harus kamu catat sa'at berkunjung ke Kulon Progo.

Air terjun kembang soka berada di bawahnya sungai Mudal. Dari objek wisata sungai mudal kira-kira 100 - 200 meter kebawah kita akan menjumpai papan penunjuk arah menuju ke lokasi air terjun kembang soka sebelum kedung pedut.

Beberapa waktu lalu saya sempat membahas mengenai objek wisata kedung pedut yang cantik dan eksotis. Sayang sekali waktu berkunjung ke kedung pedut saya tidak sempat mampir ke air terjun kembang soka karena ada alasan tertentu. Namun Alhamdulillah di kesempatan kali (lain hari) ini saya dapat berkunjung ke air terjun kembang soka.

Untuk menuju kemari kamu tidak usah bingung sob, tinggal cari saja papan penunjuk arah menuju ke kedung pedut lalu ikuti. Nah kalau kamu dari arah Magelang atau Purworejo berarti objek wisata air terjun kembang soka berada sebelum kedung pedut (jika kamu menggunakan rute Jl. Raya Kaligesang), rute ini juga yang biasa saya gunakan kemarin.

Singkat cerita saya sampai disini sekitar pukul 10.30 pagi. Alhamdulillah tanpa ada halangan sesuatu apapun. Tanpa basa basi saya langsung turun menuju ke lokasi parkir.

(26/11/16) Untuk biayanya kita hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp.4.000/ orang dan Rp.2.000/ sepeda motor, atau Rp.5.000/ mobil. Gimana sob? dinilai sendiri ya.

Saat kemari saya lihat tidak begitu banyak kendaraan yang terparkir disini. Hanya ada beberapa saja. Sebelum menuju ke air terjun kembang soka saya menyempatkan diri istirahat sambil ngobrol sama warga setempat.

"Ini wisatanya baru atau sudah lama pak?" tanyaku kepada warga.
"Ya.. baru satu tahun. tahun 2015 yang lalu." jawabnya.
"Yang mengelola pemerintah atau warga sendiri pak?" tanyaku lagi.
"Mboten (bukan). warga sendiri." jawabnya.
"Wah itu ramai pada datang." ujarku begitu melihat rombongan sepeda motor pada datang. Ada 5 motor x 2 orang.
"Biasanya ya ramai gini pak?" tanyaku.
"Biasanya ramai.. sabtu minggu mesti ramai." jawabnya.
"Kalau hari biasa seperti senin, selasa, rabu gitu?" tanyaku penasaran.
"Iya ada cuma agak sepi. Ya ramainya kalau hari libur." jawabnya.
"Ohh.. air terjunya masih jauh nggak pak?" tanyaku lagi.
"Ya sekitar 300 meteran." jawabnya.
"Ohh.. lumayan dekat."
"Iya dekat kalau buat anak muda, tapi kalau baginya orang tua ya jauh. hahahaha..." jawabnya sambil bercanda.
"Hahaha.." aku nyambung.
"Tak disini dulu ya pak sambil istirahat." ujarku.
"Iyaa mas.. istirahat dulu. dari mana to?" tanya beliau kepadaku.
"Saya Kendal pak." jawabku.
"Waaah.. hla yo tebih (jauh)."

Setelah beberapa lama ngobrol sama bapak-bapak tadi dan tenaga sudah fit kembali saya berpamitan untuk menuju ke air terjun kembang soka.

Pertama-tama kita akan melewati daerah perkebunan, medan dan suasananya mirip saat hendak menuju ke kedung pedut. Perlahan namun pasti saya menyusuri jalan setapak yang sudah disediakan.

Tak beberapa lama kemudian saya berjumpa dengan tuk jaran. Airnya terlihat bersih dan di kanan kirnya terdapat bunga-bunga serta hijaunya tanaman membuat keindahannya semakin memanjakan mata. Masya Allah..

Setelah puas melihat tuk jaran saya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke air terjun. Baru beberapa menit kemudian saya berjumpa dengan air terjun air terjun mini lagi.

Saya semakin bersemangat berjalan menelusuri jalan. Siapa sangka begitu diujung jalan sebelum jembatan saya melihat pemandangan yang luar biasa. Nampak dari sini kita dapat melihat banyak aliran air yang keluar dari sela-sela tebing, ada yang besar dan ada juga yang kecil.

Jembatan ini melintang diantara air terjun. Yakni saat kita melihat disebelah kiri kita dapat melihat air terjun yang lumayan tinggi dengan debit air yang cukup deras namun jernih, sedangkan disebelah kanan kita akan melihat pemandangan kolam air kembang soka. Pemandangannya indah sekali. Masya Allah..

Air terjun yang berada di sebelah kiri jembatan. Gambar ini terpotong, aslinya lebih tinggi lagi.

Dan ini pemandangan disebalah kanan jembatan.

Setelah puas menikmati pemandangan alam sekitar saya kembali melanjutkan perjalanan menuju kebawah, tepatnya menuju ke kolam. Jaraknya juga dekat karena sudah dapat dilihat secara langsung.

Saat sedang asyik berjalan lagi-lagi saya berjumpa dengan air terjun mini yang terdapat disela-sela tebing. Air terjun mini ini tersebar dibeberapa titik. Alhamdulillah.. Masya Allah.. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Setelah puas menikmati air terjun yang muncul di sela-sela tebing saya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kolam. Tak beberapa lama setelah menuruni anak tangga kembali lagi saya menghentikan langkah kaki karena terpesona dengan air terjun yang berada dibawah jembatan tadi.

Sepanjang aliran air terjun ini debit airnya cukup deras. Sesekali cipratan air mengenai tubuhku saat berada dibawa sini. Rasanya dingin dan segar. Dinding tebing yang berwarna coklat kemerahan menjadi ciri khas tersendiri untuk air terjun yang satu ini. Air terjun ini bisa juga disebut dengan air terjun kembang soka 1.

Oke, begitu sudah puas saya kembali lagi turun menuju ke kolam. Dari tadi kolam mulu tujuanya emangnya ada yang spesial dengan kolamnya? Ya karena kolam tersebut lokasinya paling bawah sendiri dan ada beberapa tempat istirahat. Jadi ya maklum saja kalau saya pengen cepet kesana. Hehehe..

Kolam kembang soka no edit (just watermark) . Apabila beda dengan aslinya berarti efek kamera.

Dan... Alhamdulillah.. Sampai juga di kolamnya. Alias kolam air terjun kembang soka. Nah untuk informasi saja. Kolam ini khusus untuk orang dewasa. Jadi not recommended buat adik-adik ya. Kolam ini (menurut informasi) memiliki kedalaman 250cm.

Kolam ini biasa disebut dengan area ciblon tempuran. Kalau nggak salah ciblon itu istilah jawanya main air. Sedangkan untuk tempuran artinya dalam istilah jawa adalah bertemunya 2 sumber mata air. Jadi kolam ini dipasok air oleh 2 sumber. Yang satu dari air terjun tadi diatas yang satunya lagi ada disebelah kolam ini.

Saya lihat kemarin ada beberapa remaja yang menceburkan diri bermain air di kolam ini. Cuma saya pribadi enggak merasakan sensasi dan gravitasi bermain air dikolam ini.

Dan ini dia air terjun yang berada diseberang jembatan atau disebelah kolam sisi lain. Yaitu air terjun kembang soka 2. Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih sama dengan air terjun yang pertama. Yang membedakan adalah ciri khasnya.  Kita juga bisa bermain air dibawah derasnya air yang mengalir. Suasananya seger sekali..

Saya lihat kemarin yang berkunjung kemari juga tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa orang saja. Duduk di pinggir kolam serambi memandangi aliran air dari kedua air terjun membuat pikiran menjadi fresh kembali.

Tak terasa hari semakin siang. Saking asyiknya melihat pemandangan hingga lupa waktu. Kini saatnya saya untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Wusssssss... Singkat cerita saya sudah sampai di parkiran. Sebelum gass lagi saya istirahat dulu di parkiran sambil ngobrol sama bapak-bapak yang jaga tiket. Beda orang sama yang tadi ya.

"Tempat ini yang mengelola warga sendiri mas, jadi ya kalau tempatnya masih seadanya ya dimaklumi karena dananya juga dari pengunjung." ujarnya.
"Kalau air terjunya sudah lama, diketahui warga juga sudah lama cuma baru diresmikan jadi tempat wisata ya baru tahun 2015 yang lalu mas." imbuhnya.

Disela sela percakapan dan canda tawa kami saya menyempatkan diri bertanya mengenai objek wisata Kalibiru. Beliau menuturkan kalau dari sini jaraknya nggak jauh-jauh amat. Tinggal lurus terus kira-kira 1 Km terus ada pertigaan huruf T ambil kiri. Kalau kanan ke Waduk Sermo.

Sekiranya tenaga sudah fit dan keringat mulai menghilang saya berpamitan dan kembali melanjutkan perjalanan lagi..

Hamparan Gunung Merbabu Dari Oemah Bamboe New Selo

Selo. Ya begitulah nama sebuah kecamatan yang berada di kabupaten Boyolali sekaligus menjadi perbatasan antara Magelang dan Boyolali. Mendengar nama Selo mungkin sudah banyak yang tidak asing lagi dengan istilah tersebut, terutama para pendaki. Karena digunakan sebagai jalur pendakian gunung Merapi & Merbabu maka tak heran namanya sudah dikenal oleh kalangan para pendaki.

Beberapa waktu lalu saya sempat posting mengenai Gancik Top Hill yang berada di lereng merbabu. Bukit Gancik merupakan tempat wisata yang berada di jalur pendakian gunung Merbabu yang menawarkan keindahan alam berupa pemandangan gunung Merapi.

Jika di lereng gunung Merbabu mempunyai objek wisata Gancik Top Hill lain halnya dengan lereng gunung Merapi yang mempunyai objek wisata New Selo. Walaupun terbilang lawas namun New Selo juga nggak mau ketinggalan dengan Gancik Top Hill, kini New Selo mengembangkan fasilitas lagi yaitu Oemah Bamboe yang menawarkan keindahan alam berupa pemandangan gunung merbabu. Wah seperti apa ya kira-kira?

Oemah Bamboe New Selo
Pemandangan gunung Merbabu dari Oemah Bamboe New Selo

Berawal melihat gambar di sosial media membuat saya penasaran akan oemah bamboe yang ada di New Selo. Perasaan waktu kemari beberapa waktu lalu belum ada hloh.

Seperti biasa kali ini saya berangkat sendiri dari rumah sekitar pukul 05.30. Cuaca pagi ini terlihat cerah nampak gunung Ungaran, Sindoro dan Sumbing terlihat jelas saat saya melewati daerah Singorojo.

Untuk perjalanan kali ini saya menggunakan rute Kendal - Sumowono - Ambarawa. Nah saat melewati daerah Bandungan saya melihat hamparan pegunungan terlihat jelas semua. Ada Sindoro, Sumbing, Andong, Telomoyo, Merbabu, bahkan Merapi. Wah rasanya jadi pengen cepet sampai nih.

Ini rencana saya mau lewat Kopeng. Biasanya kalau main ke daerah sekitar Kopeng saya menggunakan rute Ambarawa - Banyubiru - kemudian ambil jalan alternatif ke Kopeng dengan melewati Getasan. Saat melewati daerah Ambarawa saya iseng-iseng membuka google maps untuk menunjukan rute tercepat. Siapa tau ada jalur yang lebih cepat dari yang biasa saya lewati. Dan... Ting.. Tung.. rute sudah dapat kini saatnya saya melanjutkan perjalanan lagi.

Saat ngikutin rute saya rasa ada yang aneh. Soalnya dari Ambarawa jebol ke Bawen terus lewat jalur lingkar Salatiga. Ya betul juga sih kalau mau ke Kopeng bisa lewat jalur lingkar, saya kira ya lewatnya situ. Ehh.. ternyata enggak, masih bablas saja. Hingga sampai Boyolali dan lewat Cepogo.

Kalau di pikir ini lebih lama deh. Soalnya akses jalanya banyak yang rusak. Iyaa mungkin si maps nyebutnya paling cepet tapi kalau dibanding saya lewat Kopeng - Ketep perasaan lebih cepet lewat situ karena jalanya sudah bagus. #Yaelah. Makin lama si maps bikin geram juga karena ngasih rute jalan yang syalalala...

Pemandangan gunung Merapi dari Cepogo
Dan ini gunung Merbabu dari Cepogo

But Wait. Rasa geram saya seolah menghilang saat melewati daerah Cepogo, entah nama desa apa saya kurang paham yang jelas pemandangannya Masya Allah.. Nampak gunung Merapi dan Merbabu terlihat jelas dihiasi dengan perbukitan sekitar ditambah dengan hijaunya pepohonan membuat mata seolah dimanjakan oleh panorama alam yang ada. Masya Allah..

Pas lagi asyik menikmati pemandangan saya melihat ada papan penunjuk arah menuju ke bukit batur. Bukit batur juga merupakan tempat wisata baru yang menawarkan pemandangan gunung Merbabu. Dengan percaya diri saya mengikuti arah menuju ke bukit batur. Semangat.. Semangat..

Wait! pas sampai di ujung desa saya berfikir sejenak. Ini kok saya malah ke bukit batur yak? tanyaku dalam hati. Kan dari rumah saya mau ke New Selo? kenapa malah jadi kesini sih? #Ea... Alamat putar balik lagi beberapa kilometer untuk menuju ke Selo. Sayang juga sebenarnya karena udah mau sampai, tapi mau bagaimana lagi wong dari rumah niatnya mau ke New Selo. Karena saya melihat kabut mulai menyelimuti gunung merapi dan merbabu kayaknya musti pilih salah satu. Bukit batur atau new selo. Kalau keduanya nggak mungkin rasanya.

Setelah melewati medan yang curam dan kesasar akhirnya sampai juga saya ditujuan. Alhamdulillah.. New Selo..

Pas saya tiba disini suasananya belum terlalu ramai. Saya lihat ada beberapa bule yang nongkrong diwarung. Entah mau ndaki atau baru ndaki. Ohh iya.. gunung merapi ini udah go Internasional juga hloh. Beberapa kali saya kesini dan selalu saya lihat ada bule yang nongkrong di warung.

Tak mau membuang waktu lebih lama saya berjalan ke atas menuju ke Oemah Bamboe. Jaraknya dari new selo paling 50 meter kurang lebih.

Bangunan oemah bamboe terlihat klasik dan bergaya. Dibuat pula beberapa menara untuk memandangi gunung merbabu. Saya lihat suasananya belum begitu ramai cuma ada beberapa pengunjung yang berkeliling di sekitar oemah bamboe. Nah untuk masuk kedalam sini kita perlu merogoh kocek sebesar Rp.10.000/ orang.

"Ini baru ya pak?" tanyaku kepada penjaga tiket.
"Iyaa baru.. baru 5 bulan." jawabnya.
"Lama ya pak pembuatanya?" tanyaku lagi.
"Iyaa.. itu pembuatanya dari 5 bulan yang lalu mas." jawabnya.
"Soalnya terakhir saya kesini belum ada ini ( Oemah Bamboe ). Hehe.." ujarku.
"Hehe.. Iya mas. Baru dibuat kemarin habis lebaran Idul Fitri. Ini juga belum selesai."
"Hloh.. Ini belum selesai to?" aku keheranan karena udah top gini tapi belum clear total.
"Idenya siapa ini pak, warga?" tanyaku lagi.
"Iya.." jawabnya singkat.
"Yang mengelola juga masih warga sekitar ya?" tanyaku lagi.
"Iya.. yang mengelola warga sekitar sama yang punya lahan ini." jawabnya.
"Ohh milik lahan pribadi.."
"Kok masih sepi ya pak?" tanyaku lagi.
"Biasanya ramai mas kalau minggu." jawabnya.
"Kalau sama Gancik duluan mana pak?"
"Ya hampir barenglah mas."

Setelah bercakapan dengan si penjaga tiket saya langsung cus berjalan-jalan mengelilingi oemah bambo..

Saya jelasin lagi mungkin ada yang belum paham mengenai percakapan saya dengan bapak si penjaga tiket. (19/11/16) Jadi oemah bamboe ini baru dibuat sekitar 5 bulan yang lalu sob. Rumah pohon ini berdiri diatas lahan milik perorangan. Desain dan idenya sendiri dari warga sekitar, sampai sekarang yang mengelola juga masih warga sekitar. Sampai sekarang oemah bamboe juga masih dalam tahap pengembangan. Alias belum selesai 100%. Jika tidak berkabut kita bisa melihat panorama alam berupa gunung merbabu di depan dan gunung merapi di belakang.

Sampai diatas saya lihat gunung merbabu mulai diselimuti kabut. Saya bersyukur sekali karena masih ada bagian yang belum tertutup. Nampak terlihat jelas terasiring dan hutan gunung merbabu. Nah dari sini juga saya melihat bukit gancik. Perlu kejelian untuk menemukan tulisan Gancik diantara perbukitan.

Saat sedang asyik berkeliling saya berjumpa dengan pengunjung lain dan mereka malah ngajakin saya buat gabung. Wah seneng juga rasanya karena ada teman ngobrol.

Pengunjung yang sedang melihat pemandangan alam

Diantra beberapa menara yang terdapat di oemah bamboe saya tertarik untuk memanjat ke tempat yang ada di paling depan. Tempatnya asyik dan seru untuk dijadikan tempat bersantai. Dengan melihat pemandangan dan menikmati suasana alam membuat pikiran kita menjadi fresh. Saya dan kawan baru saya menghabiskan waktu disini ngobrol bersama, bercerita mengenai objek wisata yang pernah dikunjungi, saling bertukar informasi, dan bercanda ria.

Tak jarang pula ada pengunjung yang masih takut berjalan disekitar oemah bamboe ini. Nah buat kamu yang masih takut berjalan jalan di oemah bamboe Bismillah dulu ya sob Insya Allah aman..

Nah yang perlu diingat lagi adalah tetap menjaga aturan yang berlaku. Misalnya kapasitas orang, jangan duduk di pagar, buang sampah pada tempatnya dan lain sebagainya. Ini demi keamanan dan kenyamanan kita bersama pastinya.

Menurut kawan-kawan saya tempat ini indah, bagus, dan siplah pokoknya. Saya pun juga sependapat dengan mereka. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Saya lihat kabut juga semakin menyelimuti gunung merapi dan merbabu. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan duluan.

Semakin siang pengunjung yang datang pun semakin banyak. Tidak hanya para pengunjung yang ingin ke oemah bamboe saja namun ada sebagian yang ingin tracking ke gunung merapi. Semoga saja oemah bamboe di kawasan new selo ini lekas rampung dan menjadi tempat pandang gunung merbabu yang nyaman dan aman.

(19/11/16) Ohh ya. Untuk biaya parkirnya Rp.3.000/ motor dan Rp.5.000/ mobil ya sob.

Bukit Kerinduan Cuntel Yang Ku Kira Adalah Bukit Harapan Cuntel

Kala itu saya ingin berkunjung ke objek wisata yang berada di dusun Cuntel. Namanya adalah bukit harapan Cuntel atau istilah kerenya BHC. Berawal melihat beberapa post foto di jejaring media sosial membuat saya penasaran dan ingin segera mengunjunginya.

Cuntel merupakan nama sebuah desa yang berada di lereng gunung Merbabu, tepatnya berada di daerah Kopeng kabupaten Semarang. Untuk menuju kemari juga tidak terlalu susah. Tinggal ikuti saja papan penunjuk arah ke air terjun umbul songo, kemudian bablas saja terus ke atas maka kita akan sampai sendiri di daerah Cuntel.

Saya pribadi untuk masalah air terjun umbul songo memang sudah tidak terdengar asing lagi karena sudah pernah berkunjung kemari, maka dari itu dengan percaya diri saya tancap gas menuju keatas dengan melewati gapura Jalur Pendakian Merbabu Via Cuntel. Untuk masalah medan jalanya sudah cukup bagus, cuma tanjakanya dapat menguji adrenaline. Nah buat kamu yang mau kesini jangan lupa kendaraanmu harus dalam kondisi prima ya sob.

Ditengah-tengah jalan saya menjumpai ada sebuah pos, disitu saya lihat ada beberapa orang yang sedang bersantai ria menikmati pemandangan alam. Tanpa pikir panjang saya langsung berhenti dan beristirahat sejenak disini sambil melepas lelah.

Masya Allah.. Beruntung sekali pas saya kesini cuaca sedang cerah sehingga pemandangan alam berupa gunung Telomoyo dapat terlihat sangat jelas. Nampak dibawahnya terdapat padatnya rumah-rumah penduduk dan hijaunya pepohonan membuat mata menjadi segar.

Tidak cuma gunung Telomoyo saja yang terlihat jelas, namun disebelahnya juga tak kalah bagusnya. Yaitu gunung Andong. Kedua gunung ini berjejeran seperti gunung Merapi dan Merbabu.

Setelah lelah sedikit hilang saya kembali lagi memacu kendaraan menuju keatas. Yaitu menuju ke bukit harapan Cuntel. Tak lama berselang, kira-kira 100 meter saya melihat tempat yang banyak bangunan rumah pohon dan ada pohon matinya. Pas kemarin lihat di foto sih emang betul kalau bukit harapan Cuntel itu memiliki rumah pohon dan ada pohon matinya sebagai ikon. Oke langsung saja saya membelokan kendaraan kesini dan memarkirkanya.

Pas sudah turun dari motor saya melihat spanduk bertuliskan "Bukit Kerinduan Cuntel". Hloh.. bukanya bukit harapan ya? atau mungkin sudah berganti nama? pikir saya dalam hati. Karena sudah sampai rasanya nggak mungkin kalau langsung cabut gitu aja. Akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling sebentar menikmati suasana pagi dan indahnya pemandangan.

Saya juga mencoba menaiki beberapa rumah pohon untuk mencari spot view yang bagus. Pas lagi asyik-asyiknya berkeliling datanglah seorang ibu-ibu menyapa saya. Akhirnya terjadilah percakapan saya denganya.

"Ini bener bukit harapan Cuntel ya buk?" tanyaku kepadanya.
"Ohh bukan mas.. kalau BHC itu disitu." jawabnya sambil menunjuk lokasi bukit harapan Cuntel.
"Ohh beda to buk?" tanya saya lagi penasaran.
"Beda mas, kalau ini bukit kerinduan." jawabnya.
"Sudah lama ini buk tempat wisatanya dibangun?" tanyaku lagi.
"Baru setahun yang lalu kok mas." jawabnya.
"Dulu ini perkebunan mas, terus sekarang diubah menjadi tempat wisata." imbunya.
"Ohh.. berarti yang mengelola perorangan ya buk?"
"Iyaaa.. mas.."

Wew.. Rupanya ini bukan bukit harapan Cuntel sob. Hahaha.. Tak apalah lumayan dapat satu objek wisata baru lagi. Hehehe..

Jadi bukit kerinduan Cuntel ini dulunya adalah tanah perkebunan milik perorangan, kemudian dirombak sedemikian rupa menjadi tempat wisata. Pemandangan yang ditawarkan adalah berupa panorama gunung Andong dan Telomoyo. Jika cuaca pas sedang cerah-cerahnya maka nampak pula gunung Sindoro dan Sumbing.

Dan ini adalah bukit harapan Cuntel alias BHC yang saya cari-cari. Jaraknya dari sini lumayan dekat. Bahkan dapat dilihat dengan mata telanjang. Karena sudah saking penasaranya samab BHC dan mumpung cuaca sedang cerah saya tak ingin membuang buang waktu lagi.

"Kalau mau ke bukit harapan lewatnya mana buk?" tanyaku kepada ibu-ibu tadi.
"Lurus saja terus mas, nanti ada spanduknya." jawabnya.
"Ohh.. yaudah makasih ya buk?"
"Hloh.. kok buru-buru mas?"
"Iya nih.. mau ke bukit harapan dulu."
"Ohh iya makasih ya mas."

Saat hendak keluar datanglah seorang laki-laki yang tidak lain dan tidak bukan adalah penjaga parkir dan tempat wisata bukit kerinduan.

(16/07/16) Cukup dengan membayar Rp.5.000 saja kita sudah bisa menikmati pemandangan alam yang indah ini. Oke.. sekarang saatnya melanjutkan perjalanan menuju ke bukit harapan Cuntel yang tertunda sejenak.

Cantik Dan Eksotisnya Kedung Pedut Kulon Progo

Kedung pedut merupakan wisata air terjun yang beraa di daerah Kulon Progo tepatnya di desa wisata Jatimulyo, kecamatan Girimulyo. Nama kedung pedut sendiri bagi saya sudah tidak terdengar asing karena beberapa waktu lalu sempat ada temen yang ngajak kesini, cuma karena ada kendala agenda waktu itu gagal total.

Objek wisata yang mulai dikembangkan sekitar tahun 2014 silam ini sekarang sudah mulai dikenal dan menjadi incaran para pelancong saat berkunjung ke daerah Kulon Progo. Sampai sekarang objek wisata Kedung Pedut masih dikelola oleh warga sekitar, pembenahan demi pembenahan masih dilakukan di lokasi wisata agar menarik minat wisatawan untuk datang kemari.


Jarak antara kedung pedut dengan rumahku sekitar 4 jam lebih saat saya cek di google map. Jarak yang terbilang lumayan jauh bagi saya. Karena jarak yang jauh itulah saya berinisiatif untuk berangkat dari rumah lebih awal.  Setelah subuh cuaca di daerahku agak sedikit mendung. Meski begitu saya tetap melakulan perjalanan barang kali yang mendung cuma disini aja.

Dinginya udara pagi begitu menusuk setelah saya melewati daerah lereng gunung Ungaran. Saya lihat kabut juga masih menyelimuti beberapa tempat. Seperti di lereng gunung Sindoro dan Sumbing. Tapi bukan masalah. Saya kembali berfikir positif. Siapa tau nanti disana cerah.

Saya terus bergerak menuju ke arah Selatan, melewati daerah perbukitan di daerah Limbangan dan dinginya udara pagi semakin menusuk. Sampai-sampai jemari kuku berwarna merah kebiruan dan terasa kaku karena saking dinginya.

Saat berkunjung memari saya menggunakan rute Kendal - limbangan - Bandongan - Magelang - lalu lewat Mungkid ( searah dengan candi borobudur ) kemudian saya ambil arah ke Kulon Progo dengan melewati Klagon dan seterusnya.

Ketika sudah memasuki daerah Kulon Progo medan mulai berubah menjadi tanjakan, maklum saja karena berada di lokasi perbukitan. Di sepanjang jalan raya Kaligesing terdapat beberapa ruas yang diperbaiki. Yang pasti kalau jalanya mulus kayak gini bikin pengendara yang berjalan diatasnya merasa nyaman. Tapi awas ya sob jangan sampai ngantuk. (12/11/16) Jalanan yang diperbaiki kemarin memang belum selesai total, jadi tetap waspada dan jaga konsentrasi.

Singkat cerita saya sampai dilokasi sekitar jam sembilan lebih, hampir jam setengah sepuluh. Tadi juga sempat istirahat di pom bensin Magelang untuk isi bensin dan perut. Hehehe..

"3.000 mas?" ujar penjaga parkir kepada saya.
"Ini mas." jawab saya sambil memberikan uang kepadanya.
"Ohh iya mas, masih jauh nggak ini mas lokasinya?" imbuh saya.
"Deket kok mas, paling 400 meter." jawabnya.
"Ohh.. yaudah makasih ya mas.

Setelah mencari tempat parkir dan hendak meninggalkan motor, datanglah seorang penjaga parkir ( bukan yang tadi, beda orang ). Ia hendak merapikan motor-motor yang terparkir di tempat parkir.

"Kok sendirian aja mas?" tanyanya kepadaku.
"Iya nih mas.." jawab saya.
"Dari mana mas?" tanya ia lagi.
"Dari Kendal mas."
"Wah jauh to, berangkat jam berapa mas?"
"Tadi habis subuh mas."
"Kok nggak ngajak temene rame-rame?"
"Enggak mas, kemarin udah di planing, ehh pas hari H pada mengundurkan diri masing-masing."
"Ohh.."
"Ya udah saya tak kesana dulu ya mas?"
"Ohh iya mas, silahkan. Hati-hati."

Untung aja si masnya nggak tanya kok nggak bawa pasangan ( Pasangan HALAL hlo ya ). Kalau dia tanya mungkin saya #Baper. Ahh sudahlah..

Tak lama meninggalkan tempat parkir saya tiba di loket masuk. (12/11/16) Kemarin harga tiket masuknya sebesar Rp.6.000/ orang. Oke, saatnya lanjut ke lokasi.

Belum sampai setengah perjalanan saya menjumpai air terjun yang berada di pinggir jalan menuju ke kedung pedut. Air terjun ini tidak terlalu tinggi, airnya jernih dan terlihat bersih. Dindingnya bebatuannya berwarna kuning dan dibawahnya terdapat banyak bebatuan yang ditumbuhi lumut. Air terjun ini berada persis di sebelah kiri jalan, bahkan alirannya kita lewati. Masya Allah...

Hijaunya pemandangan sekitar membuat saya lebih bersemangat lagi untuk melangkahkan kaki menuju ke tujuan utama. Jalanan yang tadinya bersemen kini telah berubah menjadi jalan setapak tanah liat merah. Nah, di sepanjang jalan sudah ada beberapa warung yang bisa dipakai untuk istirahat dan melepas dahaga.

Alhamdulillah akhirnya saya sampai di lokasinya, cuma sekarang ini saya berada di atas kedung pedutnya. Bisa lihat gambar paling atas sendiri itu ya sob! Setelah puas melihat dari atas saya memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju kebawah dengan hati-hati.

Tak beberapa lama, saya menjumpai papan penunjuk arah menuju ke beberapa kedung. Akhirnya saya putuskan untuk ke kedung yang dekat dulu.

Akhirnya sampai juga saya di salah satu kedung. Nah kedung ini berada di atasnya kedung Merak. Sebenarnya gambar diatas adalah aliran kedungnya saja, barulah diatasnya terdapat air terjun. Untuk menjangkau air terjun tersebut saya musti blusukan atau menyusuri arus sungai baru bisa sampai. Karena ketiada'an jalan itulah saya tidak bisa mendekat kesana.

Tak lama kemudian saya berniat untuk ke kedung dibawahnya, yakni kedung Merak. Rupanya di kedung merak banyak para pengunjung yang bersantai ria dan mengabadikan momen. Yaudah akhirnya saya lewati saja dulu, nanti kesini lagi.

Next, buat ke kedung pedutnya kita tinggal berjalan mengikuti jalan yang sudah disediakan di sebelah atas. Dari atas sendiri kita bisa melihat pemandangan dengan lebih leluasa. Nah kalau gambar diatas ini adalah air terjun dibawahnya kedung merak. Nampak kedung merak terlihat di belakang jembatan. Kalau nggak salah inilah kedung Merang.

Saya kembali melanjutkan perjalanan munju ke kedung pedut. Sebenarnya dari atas tadi kita sudah bisa lihat kedung pedutnya hlo, cuma kalau nggak mendekat rasanya pasti ada yang kurang ya?

Di tengah-tengah perjalanan saya memutuskan untuk beristirahat di dekat jembatan goyang berkapastias maksimal 5 orang. Saya lihat ada beberapa warga yang sedang membersihkan aliran sungai. Nah maka dari itu sebagai pengunjung kita juga harus ikut melestarikan obyek wisata yang indah ini dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Tak lama kemudian saya kembali melanjutkan perjalanan. Nah pas lewat jembatan goyang ini saya juga penasaran, apakah beneran goyang atau cuma sekedar nama aja. Dan... ketika melewatinya.. bener-bener goyang sob. Pantes aja untuk pengamanan diberlakukan aturan maksimal 5 orang.

Begitu sampai di kolam saya melihat ada beberapa remaja ( pria ) sedang bermain air di kedung pedut, bahkan ada beberapa diantaranya yang berani melompat dari atas bangunan kayu. Untuk masalah kedalamanya sendiri kira-kira 2 meter ( ada papan informasinya ).

Rupanya diatas kolam yang tadi ada air terjun lagi, dan menurut informasi inilah air terjun kedung pedutnya. Aliranya cukup deras sob, dan dentuman airnya lumayan keras. Tak sadar saking asyiknya menikmati air terjun ini tubuh dan baju pun basah terkena air yang terhempas oleh angin.

Tak lama juga saya berada disini dan saya beranjak untuk pergi. Pas lagi jalan tiba-tiba terbesit dipikiran kalau ada sesuatu yang kurang. Apa it? Rupanya ada satu lokasi yang belum saya jamah, yaitu kedung merak. Karena tadi ramai dipadati pengunjung alhasil saya belum sempat mampir kesana. Putar balik deh..

Wussssss... singkat cerita saya sudah sampai di kedung merak. Dan saya lihat keadaanya terlihat sepi. Tidak ada seorang pun yang berada di pinggir aliran kedung merak. Tanpa basa basi saya langsung turun kebawah.

Dan inilah dia kedung merak... Tadi memang disini ramai dipadati para pengunjung. Mereka duduk dan bersantai ria di bebatuan yang unik itu. Kedung merak sendiri tidak terlalu tinggi sob, namun arusnya juga terbilang deras. Yang unik di kedung merak ini adalah di sebelah kananya terdapat rongga-rongga dengan bebatuan yang khas serta diatasnya ditumbuhi beberapa tumbuhan.

Setelah puas berada di kedung merak saya kembali lagi keatas. Dan ketika saya melihat di bukit sebelah nampak awan mendung kembali menggumpal dan menutupi sinar matahari. Tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk pulang.

Sampai dilokasi parkir saya beristirahat terlebih dahulu sebelum beranjak pergi.

"Kok cepet banget mas?" tanya penjaga parkir yang tadi sempat ngobrol dengan saya.
"Iya mas.. Heee.." jawab saya.
"Ini udah lama mas dijadikan tempat wisata?" imbuh saya.
'Ya lumayan sih mas.. sekitar 2 tahun." jawabnya.
"Terus yang ngelola siapa mas? warga sendiri?" tanya saya lagi.
"Iya mas.. warga sendiri.." jawabnya.

Saat beristirahat disini saya melihat semakin banyak para pengunjung yang berdatangan. Ada yang bawa motor dan mobil. Wah ternyata makin siang makin rame.

Kayaknya awan mendung juga semakin gelap nih, okee.. waktunya pulang..