Muter-Muter Rawa Pening Pake Perahu? Kenapa Nggak?

Danau yang berada di kaki gunung Ungaran ini memiliki potensi wisata yang cukup menjanjikan. Bagaimana tidak, banyaknya lokasi wisata yang bermunculan di sekitar danau menjadikan sebuah bukti bahwa danau rawa pening benar-benar patut diperhitungkan. Ada kampoeng rawa, terus ada bukit cinta, kemudian ada jembatan biru, dan masih banyak lagi yang lainya.





Diantra objek wisata di sekitar danau rawa pening biasanya pihak pengelola memberikan sebuah fasilitas keliling danau dengan menggunakan perahu, tentunya dengan membayar ongkos lagi ya sobat. Nah untuk kali ini saya akan membahas mengenai muter-muter danau rawa pening naik perahu, why not? khususnya bagi kalian yang berkunjung di jembatan biru.





Jembatan biru ini lokasinya berada di dekat jalur panutra Salatiga, tepatnya berada di Jl. Lintas Tuntang - Ambarawa, Asinan, Bawen, Semarang. Jaraknya dari jalan raya juga tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 100 meter kurang lebih.





Waktu itu saya berkunjung kemari saat jembatan ini lagi hits-hitsnya namun ketika itu suasananya rada sepi karena mungkin saya datang di hari normal, alias bukan di hari libur. Alhamdulillah.. hikmahnya bisa menikmati pemandangan yang indah sampai puas. Hehehe..





Naik Prahu Di Rawa Pening

"Mas, naik perahu mas?" ujar seorang bapak-bapak menghampiriku.


"15 ribu itu sampai bendera." imbuhnya sambil menunjuk ke arah bendera.




Begitu saya sampai ada seorang bapak-bapak menawani saya naik perahu keliling danau, awalnya sih saya kurang minat namun karena rasa penasaran yang tinggi jadi saya iyakan ajakanya. Setelah saya mau bapak-bapak tadi pun memanggil temanya untuk mengantarkan saya keliling danau. Hloh kenapa malah temanya? Iya soalnya disini modelnya kayak ojek gitu sob, jadi saling gantian antara nelayan satu dengan yang lain. Supaya hasilnya adil gitu..





Tanpa menunggu lama saya pun diajaknya naik perahu yang sudah dipersiapkan. Brrrrrrrmmmm... perahu pun mulai dihidupkan dan mulai berjalan meninggalkan tempatnya bersandar. Ini ceritanya yang naik perahu cuma' saya, karena memang rada sepi jadi lama kalau nunggu pengunjung lain. Anyway bapak nelayanya juga nggak keberatan nganter saya sendiri muter-muter danau.





Naik Prahu

Di daratan tadi saya perhatikan bendera yang dimaksud kelihatan dekat, tapi ketika disamperin pake' perahu kok ya lumayan ya. Hehehe... Selama perjalanan saya lihat banyak sekali tanaman eceng gondok yang tersebar di berbagai sudut rawa. Karena banyaknya tanaman eceng gondok ini maka tak heran masyarakat sekitar danau rawa pening memanfaatkanya dan mengolahnya menjadikan sesuatu yang bernilai ekonomis.





"Pak, ini sudah lama atau baru ya?" tanyaku kepada si bapak nelayan.


"Ya sebenarnya sudah lama sih mas, cuma baru ramai akhir-akhir ini." jawabnya.


"Biasanya yang naik perahu juga banyak pak?" tanyaku lagi.


"Ya pas hari libur sih mas." jawabnya.





Si bapak nelayan kemudian mematikan mesin perahu dan mengijinkan saya untuk menikmati suasana dan indahnya pemandangan. Jadi nggak begitu sampai langsung putar balik gitu ya sob.





Nelayan Danau Rawa Pening

Saya perhatikan banyak perahu-perahu nelayan yang seliweran kesana kemari mencari ikan. Membentangkan jaring kemudian menariknya, dan terus berulang. Itulah yang dilakukan para nelayan untuk mencari ikan. Tak jarang jaring yang mereka tebarkan saat diangkat tidak ada satu pun ikan yang masuk. Dari situ saya sadar bahwa mencari rejeki itu memang perlu kesabaran dan kerja keras. Jadi bersyukurlah atas apa yang dilimpahkan oleh Allah, agar rejeki dan nikmat kita senantiasa ditambah..




Di sela-sela rimbunya tanaman eceng gondok saya perhatikan banyak capung yang beterbangan dan sesekali hinggap di dahan pohon. Alhamdulillah.. disini rupanya menjadi rumah bagi serangga kecil yang sekarang mulai terancam keberadaanya. Seperti yang kita tau bawah capung memiliki masa yang panjang saat ia menjadi larva di dalam air. Larva-larva ini tidak dapat hidup di air yang kotor dan terkontaminasi oleh limbah. Jika itu terjadi bisa jadi larva tersebut bisa mati sebelum ia bermetamorfosis menjadi capung.



Suasanaya sangat syahdu banget disini, berada di danau yang dikelilingi oleh pegunungan membuat saya betah berlama-lama berada disini. Tapi apa boleh buat waktu terus berjalan dan mentari kian condong keatas.




"Sudah apa belum mas?" ujar si bapak nelayan.


"Ohh iya sudah pak." jawabku





Naik Prahu Lewat Jembatan Biru

Kemudian si bapak nelayan itu menarik mesinya kembali, dan tak beberapa lama perahu pun menyala. Akhirnya kami putar balik menju ke jembatan biru, tempat dimana saya start naik kapal. Di perjalanan pulang saya perhatikan banyak perahu-perahu lain yang datang. Perahu itu bukanlah perahu sang pencari ikan, melainkan perahu pengantar wisatawan.





Begitu sampai di jembatan biru saya membayar ongkos jasa ojek nelayan dengan harga yang sudah disepakati. Setelah berpamitan dengan si bapak nelayan kemudian saya turun meninggalkan perahu. Perjalanan saya lanjutkan menuju ke jembatan birunya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama