Kisah Candapinggala dalam Relief Candi Jago

Kisah Candapinggala dalam Relief Candi Jago

Candapinggala, singa perkasa yang memimpin kerajaan hutan Udyani, memiliki balatentara berupa kawanan serigala yang dipimpin oleh Patih Sambada.


Suatu hari, Candapinggala merasa ingin bersahabat dengan sapi bernama Nandaka. Sang singa rela melepaskan kebiasaannya memakan daging untuk menjalin persahabatan dengan Nandaka. Namun, keputusan tersebut membuat Patih Sambada dan para serigala merasa iri hati.


Patih Sambada dan para serigala bergantian menghasut Raja Candapinggala dan Nandaka dengan kisah-kisah sindiran. Hasutan ini menjadi benang merah dalam fabel-fabel Tantri Kamandaka yang terukir di relief Candi Jago.


Dampak dari hasutan tersebut menyebabkan pecahnya pertarungan sengit antara Candapinggala dan Nandaka, yang berakhir dengan keduanya tewas. Bangkai mereka menjadi rebutan Patih Sambada dan tentaranya, yang sebelumnya telah lama dilarang untuk memakan daging.


Namun, rakusnya Patih Sambada dan tentaranya membuat semua serigala mati kekenyangan. Keserakahan ini membawa pralaya pada seluruh kerajaan Candapinggala.


Kisah ini memberikan pesan yang jelas, bahwa perpecahan dan adu domba mampu menghancurkan sebuah negara. Sebaliknya, kerja sama dan persatuan menjadi kunci untuk membawa kita menuju tinggal landas tanpa batas. Sebuah pelajaran moral yang diwariskan melalui fabel-fabel seperti yang terukir di relief Candi Jago.


Melalui kisah Candapinggala, kita diberi pelajaran berharga bahwa persahabatan dan kerja sama adalah fondasi utama keberhasilan sebuah negara. Hasutan dan persaingan yang dipicu oleh iri hati justru membawa bencana dan kehancuran.


Keinginan Candapinggala untuk bersahabat dengan Nandaka sebenarnya mencerminkan semangat toleransi dan perdamaian. Namun, iri hati Patih Sambada dan serigala membuat kebaikan tersebut berubah menjadi tragedi.


Pertarungan mematikan antara Candapinggala dan Nandaka seharusnya bisa dihindari jika persatuan dan rasa saling menghormati hadir di antara mereka. Namun, hasutan dan intrik memicu pertumpahan darah yang sayangnya tidak bisa terelakkan.


Kisah ini juga menyoroti bahaya keserakahan. Ketika Patih Sambada dan tentaranya berebut bangkai Candapinggala dan Nandaka, mereka tidak menyadari bahwa kelebihan keserakahan mereka sendiri akan membawa malapetaka. Kematian serigala karena kekenyangan menjadi akibat tragis dari tingkah laku rakus tersebut.


Prinsip moral dari kisah ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Perpecahan dan pertikaian hanya akan melemahkan suatu komunitas, sedangkan kerjasama dan persatuan adalah kunci untuk mencapai kemajuan bersama.


Mungkin, relief Candi Jago yang mengabadikan kisah ini ingin mengingatkan kita akan pentingnya menjaga perdamaian, menolak iri hati, dan memupuk semangat kerja sama. Dengan demikian, kita dapat menjalin landasan yang kokoh untuk kemajuan bersama, menjauhkan diri dari bencana yang dapat diakibatkan oleh perselisihan dan keserakahan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama